This Is My Life Style

Manusia adalah tempat salah dan lupa. Semoga catatan harian ini dapat membantu saudara-saudaraku se-iman dan se-tanah air dalam melangkah. Catatan ini adalah hasil dari kebingungan dan kesenanganku dalam menghadapi hari-hari.

Apa dan Bagaimana sih Ta'aruf itu...??

Ta’aruf merupakan istilah yang dirasa sangat penting sebelum memutuskan untuk menuju ke jenjang pernikahan. Secara harfiah mengandung arti berkenalan, namun yang saya maksudkan adalah ta’aruf menuju ke tahap pernikahan. Jadi jika ada orang yang mengajak kita untuk berta’aruf, sebelumnya tanyakan dulu ke dia, apakah ta’aruf untuk menuju jenjang pernikahan atau hanya sebatas berkenalan dan saling mengetahui aja.

Saya yakin istilah ta’aruf sudah sangat akrab di kuping setiap muslim, tapi dijalani tanpa dasar yang jelas, bahkan salah dalam mengartikan. Jadi saya ingin menjelaskan apa itu ta’aruf dan bagaimana sih dia.

Berikut ini merupakan aturan main yang selayaknya dilakukan dalam Ta’aruf dalam pemahaman saya. Karena selama ini saya menginginkan untuk melakukannya namun belum tercapai.

A. Ketentuan dalam Ta’aruf :


1. Ta’aruf tidak harus berlanjut dengan Pernikahan.
Ta’aruf merupakan proses penjajakan atau pendekatan untuk saling mengenal satu sama lain. Jadi dari hal tersebut tidak harus sampai ke pelaminan. Jika Allah SWT memang mengijinkan, maka berbahagialah untuk menempuh hidup baru. Namun jika akhirnya tidak jadian ( Wah kayak pacaran nih ) diharapkan tidak kecewa dan tidak tersakiti hatinya. Yang tidak kalah penting, masing-masing pihak mampu menjaga rahasia.

2. Ta’aruf merupakan proses 1 – 1

Ini berarti bahwa, seorang laki-laki hanya berta’aruf dengan satu wanita dan sebaliknya. Jangan sampe satu orang berta’aruf dengan orang banyak. Hal ini dengan maksud Ta’aruf mempunyai hak eksklusif yang melekat pada masa itu seperti kebolehan melihat fisik (dari luar bukan ke dalam) dan menggali informasi sebanyak-banyaknya. Proses ta’aruf mempunyai privasi tersendiri bagi yang sedang melaksanakan. Semisal kita sedang berta’aruf dengan si A, maka urusan kita hanyalah dengan si A. Coba kalau kita berta’aruf dengan si A tapi juga dengan si B dan si A juga berta’aruf dengan si Z. Gitu aja sudah ribet, gimana kalau tiba-tiba orang yang sedang kita ajak ta’aruf dipinang/dikhitbah orang duluan?? Bisa berantakan kan??? Maka dari itu kita harus berani satu lawan satu, OK!!!

3. Ta’aruf berkomitmen untuk menikah, itulah yang membedakan
dengan Pacaran.

Biasanya dalam ta’aruf tersimpan komitmen untuk menikah (Jika cocok). Dan kecocokan itu berasal dari perkenalan yang langsung mengoreksi keterangan masing secara detail. Lebih baiknya saat mengoreksi keterangan didampingi oleh orang tua si Target. Tentu saja dari ta’aruf ada perbedaan dengan proses perkenalan lain, seperti pacaran yang katanya untuk saling mengenal perbedaannya terletak pada data – data yang boleh diberikan. Pada ta’aruf data yang diberikan harus secara detail dari kebaikan hingga keburukan. Bukan seperti pacaran, yang dinampakkan hanya kebaikan saja ( Ga usah bohong yang udah merasakan !!!)

4. Bersikap Jujur dan Apa Adanya.
Ini merupakan salah satu syarat penting dalam ta’aruf. Dimana ta’aruf harus mau memberikan data secara detail dari kebaikan sampe kaburukan masing – masing. Dari sikap keseharian, baik dalam berprilaku hingga saat tidur. Hal ini untuk menghindari kekecewaan di suatu hari nanti jika berlangsung dengan pernikahan.


B. Apa saja yang harus di Ta’aruf-kan???

1. Pemikiran.

Bagaimanapun juga, pemikiran serta pola piker itu berpengaruh pada perilaku dan tindakan. Bagaimana nantinya membangun Rumah Tangga dan mengasuh anak. Terkadang orang itu berpikir terlalu simple bahwa yang penting itu hanya akidahnya saja. Kalau cuma berpikir seperti itu, umat Islam di dunia tidak akan berperang dan mengalami perpecahan.

2. Fisik
Wah-wah, yang ini sudah sangat jelas sekali. Untuk mengetahui fisik itu tidak bisa hanya diwakili oleh selembar foto dan suara dalam kaset. Eiiitt!! Tapi jangan terburu-buru seperti cara Umar yang menyingkap pakaian wanita untuk melihat betis dan para sahabatnya yang mengintip dari atap rumah. Bisa-bisa kalau ketahuan bisa diteriaki MALING…!!!! Jadi gimana dong?? Ketemu langsung untuk mengetahui kurus atau gemuk, seberapa tinggi dsb. Tentang fisik ini juga menyakup tentang penyakit yang sedang dan pernah diderita. Yang paling penting…ketahui kekurangan fisik juga yang lainya. Misal, dia tidak punya gigi geraham,, hehe kan payah .. (^_^).

3. Ibadah dan pemahaman agama.
Ini menjadi sangat penting untuk mengetahui kemampuan dan keimanan seseorang. Dari ibadah yang dia lakukan dan seberapa dalam pemahaman agamanya. Ini untuk menghindari kesalahan dalam berperilaku. Orang yang paham agama dan beriman serta bertakwa akan selalu berhati-hati dalam bertindak dan berperilaku.

4. Akhlak yang biasa disebut Sifat.
Allah bilang kalo Muhammad itu diutus utk memperbaiki akhlak manusia. Jadi akhlak itu sgt penting utk diketahui. Ya masing2 pihak hrs tahu dong gimana sifat2 pihak lain apakah cengeng, pemarah, dermawan, suka usil, sering dengki dsb. Setuju ya??

5. Kondisi keluarga

Jika ta’aruf berlanjut ke arah pernikahan. Pernikahan itu kan gak cuma menyatukan dua org anak manusia tetapi juga dua buah keluarga yg memiliki kondisi berbeda,maka selayaknya sebelum terjadi pernikahan keduanya harus saling mengetahui kondisi keluarga masing-masing. A ke B dan B ke A.


Ilmu Ta’aruf dari kitab Fiqih tentang Pernikahan. Di pahami dan dijelaskan melalui bahasa yang sederhana dan lebih mudah dipahami. Oh iya, penulis ini belom menikah loh, masih muda sih, belom banyak bekal. Kalau ada yang berminat kabari ya, biar aku tidak berlama-lama dan tidak bertambah dosanya, he he he (^_^). Wassalam, Supri.

Pacaran..?? Ceweklah yang dirugikan.

Saat ini sulit mencari wanita yang di usia pubertasnya tidak memiliki pasangan alias pacar. Nampaknya, wanita kita sekarang ini sudah terjangkit budaya impor barat dan hampir tidak memiliki jati diri lagi. Sangat disayangkan sekali, sebab betapa Islam begitu menjaga kehormatan wanita.
Dulu di masa Jahiliyyah, wanita adalah aib bagi keluarga keluarga yang melahirkannya segera menguburkannya hidup-hidup karena takut malu. Seorang isteri jadi warisan anak-anaknya sepeninggal sang ayah; mau dijadikan isteri atau dibuang saja. Wanita hanyalah sebagai pelepas dahaga seksualitas laki-laki saja.

Setelah Islam datang, wanita demikian dimuliakan dan disanjung, ia dijadikan tempat berbakti utama bahkan di atas sang ayah, ia dijadikan nama surat dalam al-Qur'an, ia bisa menjadi tiket masuk surga bilamana sang ayah berhasil mendidiknya dengan baik....dan banyak lagi.

Namun, setelah pengangkatan dan penghormatan yang tidak pernah diberikan oleh agama manapun, nampaknya wanita-wanita muslimah sudah lupa diri, tidak mau mensyukuri nikmat yang diberikan Allah tersebut. Mereka nampaknya ingin kembali ke dunia hina seperti dulu masa Jahiliyyah, na'udzubillah...

Lihatlah pergaulan wanita kita sekarang ini yang sangat jauh dari prilaku orang beragama. Wanita dieksploitasi sedemikian rupa untuk kepentingan-kepentingan sesaat dan pelampiasan hawa nafsu dan materialistik belaka. Hampir di setiap tempat, wanita selalu ditemukan dalam lingkaran 'bupati' (buka paha tinggi-tinggi) atau paling tidak setingkat 'sekwilda' (sekitar wilayah dada).

Misi musuh-musuh Islam untuk menyeret umat ini ke jurang kehancuran tidak pernah berhenti dan salah satu sasaran pentingnya adalah para remaja muslimah sebab merekalah nantinya yang akan menjadi ibu-ibu rumah tangga dan pendidik bagi generasi Islam selanjutnya...Bilamana mereka ini berhasil diorbitkan sesuai selera mereka, maka tidak mustahil Islam di negeri ini hanya tinggal nama saja.

Kondisi memperihatinkan seputar pergaulan remaja sudah nampak sejak dari SD. Murid-murid SD sekarang tidak sama dengan murid-murid SD sekitar puluhan tahun lalu. Di samping, perkembangan postur tubuh yang lebih besar, perkembangan corak berpikir pun semakin bertambah. Kalau dulu, murid-murid SD tidak kenal apa itu 'cinta' tetapi sekarang bukan saja kenal artinya tetapi sudah melakoninya, salah satu indikatornya, apa yang terjadi terhadap seorang anak SD yang memperkosa anak SD perempuan. Nah, kalau demikian yang terjadi dengan murid SD saja, maka tentunya jangan ditanya apa yang terhadap anak SLTP, SLTA apalagi perguruan tinggi.

Cinta, Pacaran; itulah kata yang lebih dikenal oleh para remaja kita sekarang ini ketimbang kata-kata yang menjadi bagian dari ajaran agama mereka. Dua kata tersebut seakan sudah menjadi sarapan mereka di sekolah-sekolah melebihi mata pelajaran yang seyogyanya mereka timba.
Kondisi ini tentunya tidak datang begitu saja, ada proses di balik itu sebab tidak mungkin ada api kalau tidak ada asapnya. Kalau sepuluh tahun lalu, misalnya, musuh-musuh Islam melakukan proyek-proyek pengrusakan (dekonstruktif) secara diam-diam dan bergerilya, maka sekarang ini mereka tidak lagi demikian. Berbagai media mereka kuasai untuk menghancurkan moral generasi muda kita, termasuklah dengan menyeponsori hal-hal yang berbau 'cinta' 'asmara' 'pacaran' dan semisalnya, mulai dari tayangan di televisi, radio ataupu koran-koran. Tanpa disadari, akibat pondasi 'aqidah remaja kita yang amat lemah dan kurangnya bimbingan agama oleh para orangtua mereka, mereka hanyut dengan permainan musuh-musuh Islam tersebut. Maka, cinta dan pacaran sudah tidak menjadi tabu lagi bahkan yang tabu adalah bila ada cewek atau cowok yang tidak suka pacaran dan tidak kenal cinta. Memang dunia sudah terbalik...

Ternyata, benar apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah terhadap umat ini, yaitu bencana yang namanya 'wanita.' Beliau menyatakan bahwa tiada bencanan yang beliau tinggalkan lebih dahsyat daripada fitnah wanita. Dan, setelah sekian hampir 15 abad, apa yang beliau khawatirkan itu sudah menjadi kenyataan. Tak heran, bilamana kata 'az-Zaaniyah' (wanita pezina) didahulukan penyebutannya atas kata 'az-Zaani' (laki-laki pezina), karena pada asalnya, sumbernya adalah wanita sekalipun laki-laki juga punya peran.
Sebab, andaikata wanita mau mena'ati ajaran agamanya dengan berdiam di rumah dan tidak keluar kecuali untuk hal-hal yang memang diperlukan dan tidak dapat harus dilakukannya; tentu akan lain ceritanya. Wanita-wanita akan begitu terhormat di masyarakat bukan lagi sebagai pajangan murahan yang berseliweran di sana-sini; pabrik-pabrik, otomotif, jamu, modeling, resepsionis, kantor-kantor gede...

Kembali ke masalah pacaran; sebenarnya apa untungnya hal itu bagi wanita? saya tidak menanyakannya kepada laki-laki sebab ia lebih sebagai konsumen belaka. Apakah laki-laki diuntungkan? Tentu, hitungan untung rugi tidak dapat kita takar dengan enak atau tidak enak, tetapi takaran untuk hal ini adalah dosa dan semua yang terlibat dalam pacaran adalah mendapatkan jatah dosa.
Tetapi masalahnya, karena takaran untung rugi itu selalu dipakai, maka dapat dikatakan bahwa yang rugi itu hanya kaum wanita...[titik]
Dia yang begitu suci, belum terjamah, badannya yang halus selalu dirawat dengan baik, suaranya yang merdu dan gaya berjalan yang begitu anggun, matanya belum melihat kepada hal yang diharamkan...Seharusnya, ini sudah lebih dari cukup baginya untuk menjadi incaran dan rebutan lawan jenisnya..Betapa tidak, barang 'yang tersimpan' dengan baik itu pastilah 'orisinil' dan itu adalah paling berharga bagi laki-laki yang baik, bahkan laki-laki buruk juga menginginkan itu...

Lalu, karena godaan nafsu; uang, jabatan, harta, reputasi, cita-cita, dia yang suci itu rela sedikit demi sedikit melepaskan kesuciannya; mulai dari kerudung hingga kepada yang paling berharga, mahkotanya 'keperawanan.'

Dia serahkan bukan pada sang kekasih yang sudah menjadi suaminya yang sah, tetapi kepada orang yang tidak tahu juntrungannya....Karena sedikit godaan; ganteng, berduit, dsb, tergodalah dan dengan mudah mau dipegangi, lalu dipeluk, lalu di....dan seterusnya meneteskan air mata tak berharga karena sudah 'direnggut.' Katanya, ingin minta pertanggungjawaban, tapi pertanggungjawaban apa? apakah laki-laki itu sudah menjadi suaminya sehingga harus bertanggungjawab?
Konyolnya lagi, laki-laki itu bukan hanya 'merenggut' dirinya tetapi yang lain dan yang lain....bunga-bunga lugu yang kini layu...
Lalu siapa yang berhak dipertanggungjawabi olehnya? A,B,C,D?

Akhirnya, setelah itu semua terjadi, tinggallah dua pilihan; daripada tanggung-tanggung dan sudah basah, lebih baik mencebur sekalian atau frustasi dan bunuh diri...Pilihan ketiga, hanya faktor hidayah ketika dia kembali kepada-Nya...

Setelah hilangnya 'mahkota' dia menjadi liar dan sebaliknya bukan dicari tetapi mencari.....Dia hanya mau mempermainkan setelah dipermainkan dan tidak berani serius lagi sebab tidak akan ada yang mau kecuali....

Menyesal....Itulah kata akhir yang akan menemani hidupnya......
Semoga hal ini menjadi pelajaran.....




Apalagi sekarang ini amat gencar sekali acara-acara semacam itu ditelevisi ataupun di radio. Di TV, ada acara-acara seperti H2C, dan sebagainya yang sangat memuakkan. Tentunya, yang menjadi sasarannya adalah pemuda dan pemudi, khususnya kaum muslimin.

Buat Router sebagai Gateway Internet di Debian, Sederhana loh


Bagi seorang NewBie dalam hal Linux Server dan berkeinginan membuat router sebagai gateway internet jangan khawatir deh. Disini akan saya bantu anda membuat Router/Gateway internet menggunakan Debian Woody 3rc6.
Dalam tutorial ini diwajibkan menyiapkan beberapa hal yg saya sarankan, antara lain sebagai berikut :

1. Gadis cantik, Pacar ataukah Istri anda (Very Important)
2. PC Router Pentium I / AMD K6, disarankan Pentium II keatas.
3. CD-Rom dan 2 Ethernet(minimal) yang udah nempel di PC.
4. 9 (sembilan)keping CD Debian Woody 3rc6.
5. Secangkir Kopi Susu. Dianjurkan tanpa rokok.

Pertama-tama install debian anda dengan installan Base System. Jangan lupa menuruti permintaan Install Wizard untuk scan 9 keping CD (Penting dalam database systemnya). Maaf saya tidak menjelaskan installasi Debian secara Detail. Setelah installasi selesai, lakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. .:: Set IP Address eth0 dan eth1.

Pengsian berdasarkan asumsi sebagai berikut;
eth0 terhubung ke jaringan lokal / client internet
eth1 terhubung ke Modem ADSL atau WiFi dengan ip 10.1.1.1
Set eth0 dengan ip 192.168.0.254 dan eth1 10.1.1.2

# vi /etc/network/interfaces

auto eth0
iface eth0 inet static
address 192.168.0.254
netmask 255.255.255.0
broadcast 192.168.1.255

auto eth1
iface eth1 inet static
address 10.1.1.2
netmask 255.255.255.0
broadcast 10.1.1.255
gateway 10.1.1.1

2. ..::Install Bind 9 sebagai DNS server.

# apt-get install bind9

setelah selesai terinstall lakukan setting:

# vi /etc/bind/named.conf

masukkan perintah ;

// add entries for other zone below here

zone "domain yang diinginkan" IN {
type master;
file "db.domain";
};

zone "0.168.192.in-addr.arpa" IN {
type master;
file "db.ip";
};

*lalu buat file db.domain dan db.ip , letak posisi file di /var/cache/bind/

.::db.domain

; chuprex.net
$TTL 604800
@ IN SOA ns1.chuprex.net. root.chuprex.net. (
2006020201 ; Serial
604800 ; Refresh
86400 ; Retry
2419200 ; Expire
604800); Negative Cache TTL
;
@ IN NS ns1

ns1 IN A 192.168.0.254
mail IN A 192.168.0.2
www IN A 192.168.0.254

.:: db.ip

; chuprex.net
$TTL 604800
@ IN SOA ns1.chuprex.net. root.chuprex.net. (
2006020201 ; Serial
604800 ; Refresh
86400 ; Retry
2419200 ; Expire
604800); Negative Cache TTL
;
@ IN NS ns1
ns1 IN PTR 192.168.0.254
254 IN PTR ns1
254 IN PTR ns1.chuprex.net

** Setting file resolv.conf , posisi di /etc/resolv.conf

nameserver 192.168.0.254
domain chuprex.net
domain www.chuprex.net

**setelah itu restart bind

/etc/init.d/bind9 restart

2. ..:: Sekarang saatnya edit Routing Setting :

**Edit file ipv4_forward untuk memForwardkan ip dari 2 eth.
#vi /etc/network/options

ip_forward = yes
spoofprotect = yes
syncookies = no

**Masukkan rule iptables untuk share internet dari eth1 ke eth0.

#iptables -t nat -A POSTROUTING -o eth1 -j MASQUERADE

untuk mempermanenkan rule iptables, jangan lupa menyimpannya.

#iptables-save

Sekian aja ya, setting router sederhana sudah selesai. Ooops, ternyata ada yg tertinggal.

**:: Restart setting network anda.

#/etc/init.d/networking restart

Ini baru sekian.... :-)

Semoga petunjuk ini berguna bagi anda seorang pemula yang ingin membuat Router sederhana namun stabil. Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi :

Supriyanto

024-70233348 / 085640677358 / 081575230708
chuprex@walla.com

Rahasia Air....



"Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup." (Q.S. Al Anbiya : 30)

DAlam kitab-kitab tafsir klasik, ayat tadi diartikan bahwa tanpa air semua akan mati kehausan. tetapi di jepang, Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian tentang perilaku air.

air murni dari mata air di Pulau Honshu didoakan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5 derajat celcius di laboratorium, lantas difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah.

percobaan diulangi dengan membacakan kata, "Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)" di depan botol air tadi.

Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan Jepang "Arigato". kristal membentuk dengan keindahan yang sama.

Selanjutnya ditunjukkan kata "setan", kristal berbentuk buruk. Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. ketika musik Heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.

Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan "peace" di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Subhanallah

Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, prancis, Palestina dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu.

Ternyata air bisa mendengar kata-kata, bisa membaca tulisan dan bisa mengerti pesan. Dalam bukunya the Hidden Message in Water, Dr. masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk.

Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentranfer pesan tadi melalui molekul air yang lain. Barangkali temuan ini bisa menjelaskan, kenapa air putih yang didoakan bisa menyembuhkan si sakit.

Dulu ini kita anggap musyrik, atau paling sedikit kita anggap sekadar sugesti, tetapi ternyata molekul air itu menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit.

Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Air putih galon di rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusyu kepada Allah, agar anak yang meminumnya saleh, sehat dan cerdas dan agar suami yang meminum tetap setia. Air tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh darah.

Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari. Bila air minum di suatu kota didoakan dengan serius untuk kesalehan, Insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi baik dan tidak beringas.

Rasulullah saw. bersabda "Zamzam lima syuriba lahu". Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya". Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh.

Subhanallah.... pantaslah air zamzam begitu berkhasiat karena dia menyimpan pesan doa jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim AS.

Bila kita renungkan berpuluh ayat Al Quran tentang air, kita akan tersentak bahwa allah rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air.

BAhwa air tidak sekadar benda mati. Dia menyimpan kekuatan, daya rekam, daya penyembuh, dan sifat-sifat aneh lagi yang menunggu disingkap manusia. Islam adalah agama yang paling melekat dengan air.

Shalat wajib perlu air wudlu 5 kali sehari. habis bercampur, suami istri wajib mandi. Matipun wajib dimandikan. Tidak ada agama lain yang menyuruh memandikan jenazah, malahan ada yang dibakar.

Tetapi kita belum melakukan zikir air. kita masih perlakukan air tanpa respek. Kita buang secara mubazir, bahkan kita cemari

Astaghfirullah.

Seorang ilmuwan jepang telah merintis. Ilmuwan muslim harus melanjutkan kajian kehidupan berdasarkan Al Quran dan hadis

Wallahu a'lam

Membuat Router Sederhana dengan RedHat kernel 2.4.x




Saran saya sebelum memulai pembuatan Router, sebaiknya kita menyiapkan;

Hal² yang harus di siapkan dalam pembuatan router sederhana:

1. PC Minimal Pentium I/233MHz atau AMD K6-2 (disarankan CPU yg lebih baik)
2. Memory RAM 64 Mb (minimal)
3. Ethernet Minimal 2 Buah ( Disarankan menggunakan Realtek 8139)
4. Cd Linux Distro Redhat dengan kernel 2.4.x
5. Secangkir kopi susu ditemani dengan gadis cantik (biar ga bosan)

Dalam pembuatan Router ini saya tidak ulas cara penginstallan RedHatnya namun saya akan langsung membahas settingan yang diperlukan dalam pembuatan Router. Dalam hal ini saya menggunakan IPTables dan Proxy Squid. Untuk Proxy Squid menggunakan settingan standar aja sudah cukup untuk Router.

Konfigurasi firewall untuk sebuah router sederhana adalah seperti di bawah ini

#——————-#
# Seting Ip Forward #
#——————-#
echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward
#————#
# Seting NAT #
#————#
iptables -t nat -A POSTROUTING -s ab.c.d.e/24 -j SNAT –to-source 123.45.67.890
#—————————-#
#Redirect HTTP+HTTPS ke Proxy#
#—————————-#
iptables -t nat -I PREROUTING -s ab.c.d.e/24 -p tcp -d ! 123.45.67.890 –dport 80 -j REDIRECT –to-port 3128
iptables -t nat -I PREROUTING -s ab.c.d.e/24 -p tcp -d ! 123.45.67.890 –dport 443 -j REDIRECT –to-port 3128
#——-#
#Forward#
#——-#
iptables -A FORWARD -p tcp –dport 25 -j LOG
#ijinkan acces ke Smtp server
iptables -A FORWARD -s ab.c.d.e/24 -p tcp –dport 25 -j ACCEPT
#ijinkan acces ke DNS Server
iptables -A FORWARD -s ab.c.d.e/24 -p tcp –dport 53 -j ACCEPT
#ijinkan acces Http
iptables -A FORWARD -s ab.c.d.e/24 -p tcp –dport 80 -j ACCEPT
#ijinkan acces ke Pop3
iptables -A FORWARD -s ab.c.d.e/24 -p tcp –dport 110 -j ACCEPT
#ijinkan acces ke https
iptables -A FORWARD -s ab.c.d.e/24 -p tcp –dport 443 -j ACCEPT
#Tutup Semua Port yang tidak akan di gunakan
iptables -A FORWARD -s ab.c.d.e/24 -p tcp -j DROP

#—————-#
#4.Rule Lain Lain#
#—————-#
iptables-save > /etc/sysconfig/iptables
service iptables restart
iptables-save


Sekian Tutorial dari Supriyanto.

Selamat Bergabung di Milis LKS TKJ




Berkumpul dan beradu itulah gambaran yang terjadi diantara peserta Lomba LKS/PKS Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) tingkat Nasional 2006 di Jakarta. Awal bertemu sangat penuh dengan ketegangan. Namun rasa bersatu dan persaudaraan yang kuat antara peserta sebagai wakil Propinsi menjadikan suasana lomba seperti layaknya belajar bersama. Susah dan senang menjadi satu dalam suasana tawa dan belajar yang asyik. Kini telah dibentuk Milis untuk LKS TKJ guna mempermudah komunikasi dan belajar dalam surat menyurat Digital. Bisa di akses pada halaman http://groups.yahoo.com/group/lks_tkj/

Sekarang Udah Kerja

Hmmm...,,,
Sekarang aku sudah kerja di Poliplas. G Tau nih, mpe sekarang aku belum dapet komputer sendiri, alias masih gabung ma Senior.. Moga aja aku dapet pengalaman berharga di Poliplas. Misal g kerasan gampang aja,, tinggal pindah ke tempat lain. Soalnya aku dah banyak yang nawarin kerja, tapi jauh2 semua, luar kota ada yang luar propinsi , aku jadi males.

Doakan yaaaa,,,

Mengkritik Quraish Shihab

Majalah Media Dakwah edisi Mei 2006 ini menampilkan satu laporan menarik tentang diskusi buku jilbab Prof. Dr. Quraish Shihab yang berjudul: “Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer.” Seperti dilaporkan wartawan Majalah Media Dakwah di Mesir, Mahir Moh. Soleh, diskusi itu diadakan oleh Forum Studi Al-Quran (Fordian) dan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah (SEMA FSI) pada hari Selasa, 28/3/06, di Aula Wisma Nusantara, Kairo, Mesir.


Acara ini mendapat apresiasi hangat mahasiswa
Indonesia di Mesir mengingat nama Quraish Shihab
memang sudah tidak asing bagi kaum Muslim Indonesia.
Tafsirnya, Al-Misbah, mendapatkan perhatian dan
promosi yang sangat luas. Bagi kalangan kaum Muslim,
Quraish Shihab juga sudah dikenal dengan pendapatnya
yang ‘ganjil’ tentang jilbab; bahwa jilbab – dalam
arti pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali muka
dan telapak tangan -- tidak wajib dikenakan oleh
wanita muslimah. Salah satu putrinya, yang seorang
presenter TV, pernah diangkat profilnya oleh sebuah
majalah liberal dengan tema “menjadi wanita terhormat
tanpa jilbab”.
Ketika saya berkunjung ke Mesir, Februari lalu,
cerita tentang pendapat Quraish Shihab soal jilbab ini
juga sudah banyak diutarakan oleh kalangan mahasiswa
Indonesia di Kairo. Di dalam buku inilah, Quraish
Shihab memaparkan pendapatnya dengan cukup terperinci
tentang jilbab. Buku ini diterbitkan oleh Pusat Studi
Quran dan Lentera Hati (cetakan I, Juli 2004).
Di halaman 165-167, kita bisa membaca kesimpulan
pendapat Quraish Shihab tentang jilbab:
“Ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang pakain
wanita mengandung aneka interpretasi, sedangkan
hadits-hadits yang merupakan rujukan utama dan yang
dikemukakan oleh berbagai pihak, tidak meyakinkan
pihak lain, baik karena dinilai lemah oleh kelompok
yang menolaknya atau diberi interpretasi yang berbeda.
Perbedaan pendapat para ulama masa lampau tentang
batas-batas yang ditoleransi untuk terlihat dari
wanita membuktikan bahwa mereka tidak sepakat tentang
nilai kesahihan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan
batas-batas aurat wanita dan ini sekaligus menunjukkan
bahwa ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi
dari aurat atau badan wanita bersifat zhanniy yakni
dugaan. Seandainya ada hukum yang pasti bersumber
dari al-Quran dan Sunnah Rasul saw, tentu mereka tidak
akan berbeda dan tidak pula akan menggunakan nalar
mereka dalam menentukan luas dan sempitnya batas-batas
itu.
Perbedaan para pakar hukum itu adalah perbedaan antara
pendapat-pendapat manusia yang mereka kemukakan dalam
konteks situasi zaman serta kondisi masa dan
masyarakat mereka, serta pertimbangan-pertimbangan
nalar mereka, dan bukannya hukum Allah yang jelas,
pasti dan tegas. Di sini, tidaklah keliru jika
dikatakan bahwa masalah batas aurat wanita merupakan
salah satu masalah khilafiyah, yang tidak harus
menimbulkan tuduh-menuduh apalagi kafir mengkafirkan….
Memang harus diakui, bahwa kebanyakan ulama masa
lampau bahkan hingga kini, cenderung berpendapat bahwa
aurat wanita mencakup seluruh tubuh kecuali wajah dan
kedua telapak tangannya. Akan tetapi, harus pula
diakui, bahwa ada pendapat lain yang lebih longgar
disamping kenyataan menunjukkan bahwa banyak kalangan
keluarga ulama yang terpandang yang wanita-wanitanya –
baik anak maupun istri – tidak mengenakan jilbab. Di
Indonesia, lihatlah misalnya sebagian dari Muslimat
Nahdhatul Ulama, atau Aisyiah. Ini, lebih-lebih
sekitar belasan tahun yang lalu. Tentu saja para ulama
kedua organisasi Islam yang terbesar di Indonesia itu
memiliki alasan dan pertimbangan-pertimbangannya,
sehingga praktek yang mereka lakukan itu – apalagi
tanpa teguran dari para ulama – boleh jadi dapat
dinilai sebagai pembenaran atas pendapat yang
menyatakan bahwa yang terpenting dari pakaian wanita
adalah menampilkan mereka dalam bentuk terhormat,
sehingga tidak mengundang gangguan dari mereka yang
usil.” (hal. 165-167).

Begitulah pendapat Quraish Shihab tentang jilbab.
Pendapat Quraish itu tentu saja merupakan pendapat
yang ‘aneh’ dan ‘ganjil’ di lingkungan ulama Islam.
Pendapat itulah yang dikupas habis-habisan oleh para
pakar tafsir dan syariah di dalam acara bedah buku di
Kairo tersebut. Pembedah buku adalah tiga intelektual
muda, dari tiga disiplin ilmu yang berbeda, dan dari
organisasi yang berbeda (NU, Muhammadiyah, dan
Persis): Dr. Muchlis M.Hanafi, MA. (Doktor Tafsir dan
Ilmu al-Quran, lulusan al-Azhar Kairo), A.Zain
An-Najah, MA. (Mahasiswa Program Doktoral bidang
Fikih, al-Azhar), dan Aep Saepulloh, S.Ag (Mahasiswa
Program Magister, Jurusan Ushul Fikih, al-Azhar).
Acara dimoderatori oleh Romli Syarqowi, S.Ag
(Mahasiswa Program Magister, Jurusan Tafsir,
al-Azhar).
Dalam acara yang berdurasi kurang lebih tiga jam ini,
pembedah berhasil tampil cukup kritis dan analitis.
Selain mendapatkan apresiasi, buku Quraish Syihab juga
tak luput dari kritikan tajam pembedah dan peserta.
Lain dengan Quraish Syihab yang tidak bersikap tegas,
ketiga pembedah sepakat bahwa mengenakan jilbab
hukumnya wajib bagi wanita muslimah. "Kewajiban
berjilbab dengan ketentuan tertentu, didasari atas
dalil dan qarinah (petunjuk) yang sangat kuat, jika
tidak ingin mengatakan qhathi' (yakin)," kata Muchlis
Hanafi.
Aep Saepulloh, mahasiswa asal Ciamis yang juga
penasihat Perwakilan PERSIS Mesir mengungkapkan tujuh
catatan kritis untuk Quraish Shihab. Diantaranya,
kekurangtepatan Quraish Shihab dalam mengutip atau
menyandarkan pendapat, kekeliruan dalam penerjemahan
istilah-istilah seperti tangan dan telapak tangan,
dll. Menurutnya, dalam membedah karya seseorang adalah
dengan cara Ta’shil Maraji’ yaitu dengan melihat
kembali sumber asli yang ditunjukkan oleh penulis
sehingga terlihat keakuratan data yang disampaikan.
Aep menyoroti bahwa menurut buku itu, seolah-olah
tidak ada kata sepakat tentang batasan aurat wanita,
dikarenakan perbedaan pendapat diantara para ulama
dalam hal ini. Padahal, yang dijadikan rujukan utama
oleh Quraish Shihab dalam masalah ‘perbedaan’ ini
adalah pemikir sekular Mesir yang bernama Muhammad
Said al-'Asymawi. Bahkan ia satu-satunya yang dimaksud
Quraish dalam bukunya. Bahkan sebagian besar buku ini,
30 persen adalah pendapat Asymawi yang terdapat dalam
bukunya Haqiqatul Hijab wa Hujjiyatul Hadits.
Kritik Aep ini sangat penting, sebab Asymawi bukanlah
pakar yang otoritatif dalam bidang Syariat Islam, yang
sepatutnya tidak disejajarkan oleh Quraish Shihab
dengan para ulama-ulama besar yang otoritatif di
bidangnya. Asymawi pun juga dikenal sebagai tokoh
pluralisme agama yang mengakui kebenaran relatif
tiap-tiap agama. Dalam sebuah tulisannya dia mencatat,
bahwa perbedaan bentuk agama-agama hanyalah soal
perbedaan verbal, perbedaan interpretasi linguistik,
dan perbedaan sikap filosofis. Manusia percaya kepada
huruf dan berbeda pendapat tentang huruf dan tidak
mempunyai definisi yang pasti tentang huruf dan tidak
menjauhkan iman dari huruf. (If we analyze the
disagreements between the different forms of religion
we will find that they are mainly verbal disagreement,
linguistic interpretations and philosophical
attitudes. People believe in words and differ about
words, without having a precise defintion of words and
without keeping the faith away from words). (Lihat,
Muhammad Sa’id al-Ashmawy, “Islam, Judaism,
Christianity: One Religion, One Vision, Many Paths”
dalam Against Islamic Extremism, (Gainesville:
University Press of Florida, 1998), hal. 56-57).
Cara pandang ‘hermeneutis’ Asymawi itu menunjukkan
bagaimana dia percaya pada relativisme tafsir. Karena
itu, wajar jika dia termasuk yang tidak percaya
tentang adanya ayat yang qath’iy. Semuanya bisa
ditafsirkan sesuai dengan kehendak mufassir dan
situasi tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah ayat
tentang jilbab yang boleh ditafsirkan sekehendaknya.
Dalam Majalah Media Dakwah juga disebutkan kritik
Zain an-Najah, ketua Majlis Tarjih di PCI
Muhammadiyah Mesir. Zain juga membahas tentang
qadhiyah jilbab dan cadar. Menurutnya pakaian dapat
dinilai sebagai barometer keimanan yang sudah diatur
dalam tata nilai Islam karena tujuannya tiada lain
untuk menutup aurat dan juga keindahan. Zain
menegaskan perlunya membedakan antara ‘illat dan
hikmah yang seringkali dijadikan landasan untuk
mengistinbath hukum, terlebih dengan hukum jilbab.
Zain an-Najah sendiri berharap agar semua sedapat
mungkin mengajak wanita muslimah yang belum menutup
auratnya untuk menggunakan jilbab dan pakaian yang
sesuai dengan adab yang telah ditetapkan oleh syariat.

Muchlis Hanafi yang juga Katib Aam PCI NU Mesir,
menjelaskan, dalam persoalan jilbab, praktek para
shahabiyyat yang tidak disanggah oleh Rasulullah
bahkan dikuatkan, dan pemahaman para shahabiyyin,
serta penerimaan ummat dari generasi ke generasi,
secara keseluruhan, menjadi bukti dan qarinah bahwa
yang dimaksud dalam ayat hijab dan jilbab adalah,
bahwa para wanita harus menutup seluruh anggota badan,
tanpa kecuali, atau dengan pengecualian wajah, kedua
telapak tangan, ditambah kelonggaran sedikit; setengah
tangan dan kedua kaki, tidak lebih dari itu. Tidak
ditemukan pandangan ulama yang diakui otoritas
keilmuannya yang berpendapat rambut, leher, betis dan
lainnya boleh dibuka, tambah Muchlis.
Muchlis juga mengkritik pendapat Asymawi yang
mengatakan bahwa memakai jilbab tidak wajib, karena
ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah kewajiban
jilbab sangat terkait dengan konteks tertentu (ada
asbabun nuzul-nya), dan konteks ini hendaknya harus
menjadi pertimbangan utama sebuah keputusan hukum. Ada
dua hal yang membantah pendapat Asymawi. Pertama,
rangkaian sebelum dan sesudah ayat jilbab dan hijab
dalam surah an-Nur dan al-Ahzab, menunjukan bahwa
alasan diwajibkannya memakai jilbab adalah demi
al-Hisymah (menjaga kehormatan wanita agar tetap
terpuji), bukan sekedar untuk membedakan mana wanita
merdeka dan mana yang hamba sahaya. Kedua, Istilah
asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat al-Quran),
dalam tradisi Ulama Islam tidak dimaksudkan untuk
menggambarkan hubungan sebab-akibat (kausalitas), yang
berarti kalau peristiwa itu tidak turun, maka ayatnya
tidak turun. Tapi lebih berperan sebagai
peristiwa/audio visual (alat peraga) yang mengiringi
turunnya ayat. Selain itu, mengkhususkan lafal ayat
al-Quran hanya berlaku pada kasus tertentu, tidak
bersifat umum, berarti menzalimi lafal itu sendiri.
Sebab lafal yang dasarnya bersifat umum dan menunjuk
makna yang telah jelas digunakan pemakainya, tidak
bisa dikhususkan atau dialihkan ke makna lain, kecuali
didukung bukti kuat. Dan asbabun nuzul tidak cukup
kuat untuk mengkhususkan pesan umum sebuah lafal
Aep Saepulloh, dalam catatan akhirnya, menginginkan
agar Quraish tidak menerbitkan buku sebatas
mendeskripsikan pendapat sementara “ulama” yang kurang
otoritatif pada bidangnya seperti Syahrur, Asymawi,
Nawal Sa’dawi atau yang lainnya yang memang tidak
memiliki basic fikih yang memadai. Sedangkan Zain
sangat menyayangkan sikap Quraish yang tawaquf .
“Kehati-hatian memang sangat diperlukan namun
kebimbangan yang berkepanjangan kurang tepat apalagi
jika qadiyah yang sudah dibahas oleh para ulama yang
diakui otoritas keilmuannya (mu'tabar),” tuturnya.
Itulah kritik yang tajam dari para cendekiawan muda
kita di Mesir terhadap Quraish Shihab, seperti
dolaporkan Majalah Media Dakwah.
Memang sangat disesalkan, di tengah-tengah maraknya
kaum Muslimah untuk berjilbab, Pusat Studi Quran yang
dipimpin Quraish Shihab malah meluncurkan buku Quraish
Shihab yang hujjahnya begitu lemah. Dalam soal jilbab
ini, terkesan kuat, Quraish Shihab mencari-cari dalil
yang longgar, meskipun bukan dari sumber yang
otoritatif. Misalnya, dari banyaknya keluarga ulama di
Indonesia, juga dari sebagian kalangan Muslimat NU dan
Aisyiah, yang tidak berjilbab.
Padahal, sikap resmi Muhammadiyah sendiri tidak
seperti itu. Dalam buku Tanya Jawab Agama dari Tim PP
Muhammadiyah dan Tarjih yang diterbitkan oleh Suara
Muhammadiyah (1997), bahkan ditunjukkan contoh pakaian
yang harus dikenakan seorang Muslimah, yakni yang
menutup leher dan dada dan hanya menampakkan wajah dan
telapak tangan. Wallahu a’lam.

Jatuh Cintaku waktu itu....

Suatu kali saya jatuh cinta! Tau ga rasanya? Boong ah, kalo bilang ga tau!
Terus, masalahnya apa? Normal kan…

Masalahnya, saya nyaris kehilangan kendali diri, kehilangan control emosi, kehilangan realitas diri. Saya berubah menjadi orang paling melankolis sedunia, paling romantis (da sebenarnya mah saya dari dulu juga romantis), dan blog saya penuh dengan kata-kata puitis (sebenernya emang puitis dari dulu)

Psstt… jangan komentar dulu! Baca sampe selesai.

Terus… si dia gimana? Ngakunya sih… he love me too…

Aih… aih… jadiin aja!
Engga!
Kenapa?

Because of this loping-loping (jatuh cinta maksudnyah), saya rugi besar. Rugi materi mah bisa diganti. Coba itung, waktu yang udah abis ga kerasa karena pikiran dipenuhi all about him, ga bisa diganti. Ibadah nafilah lolos satu persatu. Hafalan quran belepotan karena ga sempet murojaah. Dan sementara waktu semakin mendekatkan kami, hiks… he choose another women!
Blarrr!!!! langit runtuh! (ini mah hiperbola)

Emangnya dari awal ga sadar?

Sadar! Sadaaaarrrr banget! Sadar kalau seharusnya ketika ada rasa yang mulai bertunas, seharusnya saat itu juga dipagari dengan ma’rifatullah, dipancang dengan quwatusshillah billah. Agar tunas itu mekar, tumbuh, kuat dan berakar nanti saja, pada waktu yang tepat, pada orang yang tepat.

And now… saya kembalikan semua kepada-Nya. Saya hapus namanya dalam memori hati, sebab hanya Dia yang boleh ada di sana. Jika tidak, saya semikin desperate ketika ada yang menyebut nama dan menceritakan tentangnya. Saya putuskan hubungan dan komunikasi dengannya, dan sambungkan kembali komunikasi dengan-Nya.

Kalo dia nanya, biar Ari Lasso yang jawab, hampa terasa, aku telah hilang ditelan bumi. And this loping-loping, let it gone with the wind.

Kenapa saya menulis semua ini? ah! Ambil saja ibrohnya.

At last…
God, kalo seseorang itu bukan jodohku, please deh jauhin, plis…plis… plis.. dan ganti dengan yang lebih baik.
Dan jika ia jodohku maka supaya didekatkan dengan cara-Mu, dan skenario-Mu. entah cinta itu datang sebelum waktunya atau datang sesudah tiba waktunya.

Pandanganku about PAcaran

(pandangan pribadi daku aja kok)"Maap kalo tulisannya agak kasar"menurut daku, pacaran itu istilah yg mengada-ada yang di gunakan sama para idung belang dan pelaku maksiat lainnya."aku kan pacarmu, masa gak mau aku cium""aku kan pacarmu, masa gak mau aku peluk""aku kan pacarmu, masa masa dan masa.., ">buntutnya tek dung....,kalo alesan pacaran supaya bisa mengenal pasangannya lebih jauh..,itu namanya lagi nge bulshit. Soalnya, mengenal orang itu cukup dengan waktu 1 menit.1 menit gak cukup lah? soalnya latar blakang pasangan kita kayak apa kan kita blom tau..!!!(kalo mau mengenal sampe sejauh itu gitu, jadi detektip aja)lagi pula, gak mungkin kita kenal seseorang baru 1 menit, tiba2 langsung naksir. pasti sebelumnya udah kenal dulu lah.kalo emang kenal baru 1 menit, trus langsung naksir, "biasanya" karena "wajah" mungkin ganteng / cantik (nah nah nah.., tanda2 maksiat tuh)kalo emang mau deket sama seseorang(walau pun punya rencana sampe nikah),kanapa juga gak berteman ajah (kayak sahabat karib gitu)tapi kalo berteman buntutnya sampe grepe-grepe juga,wah..., brarti tu orang pelaku maksiat juga(pacaran).kudu di rajam pake besi panas yg segede tiang listrik (bukan pleplah korma)mendingan yang aman-aman aja dah...,misalnya kita naksir sama temen kita (lawan jenis lho),langsung ajah:"hii freennn.. minggu depan nikah yuk" suit suwiiwwww...., apa gak kecepetan tuh?> itukan karena tradisi kita udah ngebentuk pola kayak gitu (pacaran dulu minimal setahun "misalnya", baru nikah)