This Is My Life Style

Manusia adalah tempat salah dan lupa. Semoga catatan harian ini dapat membantu saudara-saudaraku se-iman dan se-tanah air dalam melangkah. Catatan ini adalah hasil dari kebingungan dan kesenanganku dalam menghadapi hari-hari.

Sekarang Udah Kerja

Hmmm...,,,
Sekarang aku sudah kerja di Poliplas. G Tau nih, mpe sekarang aku belum dapet komputer sendiri, alias masih gabung ma Senior.. Moga aja aku dapet pengalaman berharga di Poliplas. Misal g kerasan gampang aja,, tinggal pindah ke tempat lain. Soalnya aku dah banyak yang nawarin kerja, tapi jauh2 semua, luar kota ada yang luar propinsi , aku jadi males.

Doakan yaaaa,,,

Mengkritik Quraish Shihab

Majalah Media Dakwah edisi Mei 2006 ini menampilkan satu laporan menarik tentang diskusi buku jilbab Prof. Dr. Quraish Shihab yang berjudul: “Jilbab Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer.” Seperti dilaporkan wartawan Majalah Media Dakwah di Mesir, Mahir Moh. Soleh, diskusi itu diadakan oleh Forum Studi Al-Quran (Fordian) dan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah (SEMA FSI) pada hari Selasa, 28/3/06, di Aula Wisma Nusantara, Kairo, Mesir.


Acara ini mendapat apresiasi hangat mahasiswa
Indonesia di Mesir mengingat nama Quraish Shihab
memang sudah tidak asing bagi kaum Muslim Indonesia.
Tafsirnya, Al-Misbah, mendapatkan perhatian dan
promosi yang sangat luas. Bagi kalangan kaum Muslim,
Quraish Shihab juga sudah dikenal dengan pendapatnya
yang ‘ganjil’ tentang jilbab; bahwa jilbab – dalam
arti pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali muka
dan telapak tangan -- tidak wajib dikenakan oleh
wanita muslimah. Salah satu putrinya, yang seorang
presenter TV, pernah diangkat profilnya oleh sebuah
majalah liberal dengan tema “menjadi wanita terhormat
tanpa jilbab”.
Ketika saya berkunjung ke Mesir, Februari lalu,
cerita tentang pendapat Quraish Shihab soal jilbab ini
juga sudah banyak diutarakan oleh kalangan mahasiswa
Indonesia di Kairo. Di dalam buku inilah, Quraish
Shihab memaparkan pendapatnya dengan cukup terperinci
tentang jilbab. Buku ini diterbitkan oleh Pusat Studi
Quran dan Lentera Hati (cetakan I, Juli 2004).
Di halaman 165-167, kita bisa membaca kesimpulan
pendapat Quraish Shihab tentang jilbab:
“Ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang pakain
wanita mengandung aneka interpretasi, sedangkan
hadits-hadits yang merupakan rujukan utama dan yang
dikemukakan oleh berbagai pihak, tidak meyakinkan
pihak lain, baik karena dinilai lemah oleh kelompok
yang menolaknya atau diberi interpretasi yang berbeda.
Perbedaan pendapat para ulama masa lampau tentang
batas-batas yang ditoleransi untuk terlihat dari
wanita membuktikan bahwa mereka tidak sepakat tentang
nilai kesahihan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan
batas-batas aurat wanita dan ini sekaligus menunjukkan
bahwa ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi
dari aurat atau badan wanita bersifat zhanniy yakni
dugaan. Seandainya ada hukum yang pasti bersumber
dari al-Quran dan Sunnah Rasul saw, tentu mereka tidak
akan berbeda dan tidak pula akan menggunakan nalar
mereka dalam menentukan luas dan sempitnya batas-batas
itu.
Perbedaan para pakar hukum itu adalah perbedaan antara
pendapat-pendapat manusia yang mereka kemukakan dalam
konteks situasi zaman serta kondisi masa dan
masyarakat mereka, serta pertimbangan-pertimbangan
nalar mereka, dan bukannya hukum Allah yang jelas,
pasti dan tegas. Di sini, tidaklah keliru jika
dikatakan bahwa masalah batas aurat wanita merupakan
salah satu masalah khilafiyah, yang tidak harus
menimbulkan tuduh-menuduh apalagi kafir mengkafirkan….
Memang harus diakui, bahwa kebanyakan ulama masa
lampau bahkan hingga kini, cenderung berpendapat bahwa
aurat wanita mencakup seluruh tubuh kecuali wajah dan
kedua telapak tangannya. Akan tetapi, harus pula
diakui, bahwa ada pendapat lain yang lebih longgar
disamping kenyataan menunjukkan bahwa banyak kalangan
keluarga ulama yang terpandang yang wanita-wanitanya –
baik anak maupun istri – tidak mengenakan jilbab. Di
Indonesia, lihatlah misalnya sebagian dari Muslimat
Nahdhatul Ulama, atau Aisyiah. Ini, lebih-lebih
sekitar belasan tahun yang lalu. Tentu saja para ulama
kedua organisasi Islam yang terbesar di Indonesia itu
memiliki alasan dan pertimbangan-pertimbangannya,
sehingga praktek yang mereka lakukan itu – apalagi
tanpa teguran dari para ulama – boleh jadi dapat
dinilai sebagai pembenaran atas pendapat yang
menyatakan bahwa yang terpenting dari pakaian wanita
adalah menampilkan mereka dalam bentuk terhormat,
sehingga tidak mengundang gangguan dari mereka yang
usil.” (hal. 165-167).

Begitulah pendapat Quraish Shihab tentang jilbab.
Pendapat Quraish itu tentu saja merupakan pendapat
yang ‘aneh’ dan ‘ganjil’ di lingkungan ulama Islam.
Pendapat itulah yang dikupas habis-habisan oleh para
pakar tafsir dan syariah di dalam acara bedah buku di
Kairo tersebut. Pembedah buku adalah tiga intelektual
muda, dari tiga disiplin ilmu yang berbeda, dan dari
organisasi yang berbeda (NU, Muhammadiyah, dan
Persis): Dr. Muchlis M.Hanafi, MA. (Doktor Tafsir dan
Ilmu al-Quran, lulusan al-Azhar Kairo), A.Zain
An-Najah, MA. (Mahasiswa Program Doktoral bidang
Fikih, al-Azhar), dan Aep Saepulloh, S.Ag (Mahasiswa
Program Magister, Jurusan Ushul Fikih, al-Azhar).
Acara dimoderatori oleh Romli Syarqowi, S.Ag
(Mahasiswa Program Magister, Jurusan Tafsir,
al-Azhar).
Dalam acara yang berdurasi kurang lebih tiga jam ini,
pembedah berhasil tampil cukup kritis dan analitis.
Selain mendapatkan apresiasi, buku Quraish Syihab juga
tak luput dari kritikan tajam pembedah dan peserta.
Lain dengan Quraish Syihab yang tidak bersikap tegas,
ketiga pembedah sepakat bahwa mengenakan jilbab
hukumnya wajib bagi wanita muslimah. "Kewajiban
berjilbab dengan ketentuan tertentu, didasari atas
dalil dan qarinah (petunjuk) yang sangat kuat, jika
tidak ingin mengatakan qhathi' (yakin)," kata Muchlis
Hanafi.
Aep Saepulloh, mahasiswa asal Ciamis yang juga
penasihat Perwakilan PERSIS Mesir mengungkapkan tujuh
catatan kritis untuk Quraish Shihab. Diantaranya,
kekurangtepatan Quraish Shihab dalam mengutip atau
menyandarkan pendapat, kekeliruan dalam penerjemahan
istilah-istilah seperti tangan dan telapak tangan,
dll. Menurutnya, dalam membedah karya seseorang adalah
dengan cara Ta’shil Maraji’ yaitu dengan melihat
kembali sumber asli yang ditunjukkan oleh penulis
sehingga terlihat keakuratan data yang disampaikan.
Aep menyoroti bahwa menurut buku itu, seolah-olah
tidak ada kata sepakat tentang batasan aurat wanita,
dikarenakan perbedaan pendapat diantara para ulama
dalam hal ini. Padahal, yang dijadikan rujukan utama
oleh Quraish Shihab dalam masalah ‘perbedaan’ ini
adalah pemikir sekular Mesir yang bernama Muhammad
Said al-'Asymawi. Bahkan ia satu-satunya yang dimaksud
Quraish dalam bukunya. Bahkan sebagian besar buku ini,
30 persen adalah pendapat Asymawi yang terdapat dalam
bukunya Haqiqatul Hijab wa Hujjiyatul Hadits.
Kritik Aep ini sangat penting, sebab Asymawi bukanlah
pakar yang otoritatif dalam bidang Syariat Islam, yang
sepatutnya tidak disejajarkan oleh Quraish Shihab
dengan para ulama-ulama besar yang otoritatif di
bidangnya. Asymawi pun juga dikenal sebagai tokoh
pluralisme agama yang mengakui kebenaran relatif
tiap-tiap agama. Dalam sebuah tulisannya dia mencatat,
bahwa perbedaan bentuk agama-agama hanyalah soal
perbedaan verbal, perbedaan interpretasi linguistik,
dan perbedaan sikap filosofis. Manusia percaya kepada
huruf dan berbeda pendapat tentang huruf dan tidak
mempunyai definisi yang pasti tentang huruf dan tidak
menjauhkan iman dari huruf. (If we analyze the
disagreements between the different forms of religion
we will find that they are mainly verbal disagreement,
linguistic interpretations and philosophical
attitudes. People believe in words and differ about
words, without having a precise defintion of words and
without keeping the faith away from words). (Lihat,
Muhammad Sa’id al-Ashmawy, “Islam, Judaism,
Christianity: One Religion, One Vision, Many Paths”
dalam Against Islamic Extremism, (Gainesville:
University Press of Florida, 1998), hal. 56-57).
Cara pandang ‘hermeneutis’ Asymawi itu menunjukkan
bagaimana dia percaya pada relativisme tafsir. Karena
itu, wajar jika dia termasuk yang tidak percaya
tentang adanya ayat yang qath’iy. Semuanya bisa
ditafsirkan sesuai dengan kehendak mufassir dan
situasi tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah ayat
tentang jilbab yang boleh ditafsirkan sekehendaknya.
Dalam Majalah Media Dakwah juga disebutkan kritik
Zain an-Najah, ketua Majlis Tarjih di PCI
Muhammadiyah Mesir. Zain juga membahas tentang
qadhiyah jilbab dan cadar. Menurutnya pakaian dapat
dinilai sebagai barometer keimanan yang sudah diatur
dalam tata nilai Islam karena tujuannya tiada lain
untuk menutup aurat dan juga keindahan. Zain
menegaskan perlunya membedakan antara ‘illat dan
hikmah yang seringkali dijadikan landasan untuk
mengistinbath hukum, terlebih dengan hukum jilbab.
Zain an-Najah sendiri berharap agar semua sedapat
mungkin mengajak wanita muslimah yang belum menutup
auratnya untuk menggunakan jilbab dan pakaian yang
sesuai dengan adab yang telah ditetapkan oleh syariat.

Muchlis Hanafi yang juga Katib Aam PCI NU Mesir,
menjelaskan, dalam persoalan jilbab, praktek para
shahabiyyat yang tidak disanggah oleh Rasulullah
bahkan dikuatkan, dan pemahaman para shahabiyyin,
serta penerimaan ummat dari generasi ke generasi,
secara keseluruhan, menjadi bukti dan qarinah bahwa
yang dimaksud dalam ayat hijab dan jilbab adalah,
bahwa para wanita harus menutup seluruh anggota badan,
tanpa kecuali, atau dengan pengecualian wajah, kedua
telapak tangan, ditambah kelonggaran sedikit; setengah
tangan dan kedua kaki, tidak lebih dari itu. Tidak
ditemukan pandangan ulama yang diakui otoritas
keilmuannya yang berpendapat rambut, leher, betis dan
lainnya boleh dibuka, tambah Muchlis.
Muchlis juga mengkritik pendapat Asymawi yang
mengatakan bahwa memakai jilbab tidak wajib, karena
ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah kewajiban
jilbab sangat terkait dengan konteks tertentu (ada
asbabun nuzul-nya), dan konteks ini hendaknya harus
menjadi pertimbangan utama sebuah keputusan hukum. Ada
dua hal yang membantah pendapat Asymawi. Pertama,
rangkaian sebelum dan sesudah ayat jilbab dan hijab
dalam surah an-Nur dan al-Ahzab, menunjukan bahwa
alasan diwajibkannya memakai jilbab adalah demi
al-Hisymah (menjaga kehormatan wanita agar tetap
terpuji), bukan sekedar untuk membedakan mana wanita
merdeka dan mana yang hamba sahaya. Kedua, Istilah
asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat al-Quran),
dalam tradisi Ulama Islam tidak dimaksudkan untuk
menggambarkan hubungan sebab-akibat (kausalitas), yang
berarti kalau peristiwa itu tidak turun, maka ayatnya
tidak turun. Tapi lebih berperan sebagai
peristiwa/audio visual (alat peraga) yang mengiringi
turunnya ayat. Selain itu, mengkhususkan lafal ayat
al-Quran hanya berlaku pada kasus tertentu, tidak
bersifat umum, berarti menzalimi lafal itu sendiri.
Sebab lafal yang dasarnya bersifat umum dan menunjuk
makna yang telah jelas digunakan pemakainya, tidak
bisa dikhususkan atau dialihkan ke makna lain, kecuali
didukung bukti kuat. Dan asbabun nuzul tidak cukup
kuat untuk mengkhususkan pesan umum sebuah lafal
Aep Saepulloh, dalam catatan akhirnya, menginginkan
agar Quraish tidak menerbitkan buku sebatas
mendeskripsikan pendapat sementara “ulama” yang kurang
otoritatif pada bidangnya seperti Syahrur, Asymawi,
Nawal Sa’dawi atau yang lainnya yang memang tidak
memiliki basic fikih yang memadai. Sedangkan Zain
sangat menyayangkan sikap Quraish yang tawaquf .
“Kehati-hatian memang sangat diperlukan namun
kebimbangan yang berkepanjangan kurang tepat apalagi
jika qadiyah yang sudah dibahas oleh para ulama yang
diakui otoritas keilmuannya (mu'tabar),” tuturnya.
Itulah kritik yang tajam dari para cendekiawan muda
kita di Mesir terhadap Quraish Shihab, seperti
dolaporkan Majalah Media Dakwah.
Memang sangat disesalkan, di tengah-tengah maraknya
kaum Muslimah untuk berjilbab, Pusat Studi Quran yang
dipimpin Quraish Shihab malah meluncurkan buku Quraish
Shihab yang hujjahnya begitu lemah. Dalam soal jilbab
ini, terkesan kuat, Quraish Shihab mencari-cari dalil
yang longgar, meskipun bukan dari sumber yang
otoritatif. Misalnya, dari banyaknya keluarga ulama di
Indonesia, juga dari sebagian kalangan Muslimat NU dan
Aisyiah, yang tidak berjilbab.
Padahal, sikap resmi Muhammadiyah sendiri tidak
seperti itu. Dalam buku Tanya Jawab Agama dari Tim PP
Muhammadiyah dan Tarjih yang diterbitkan oleh Suara
Muhammadiyah (1997), bahkan ditunjukkan contoh pakaian
yang harus dikenakan seorang Muslimah, yakni yang
menutup leher dan dada dan hanya menampakkan wajah dan
telapak tangan. Wallahu a’lam.

Jatuh Cintaku waktu itu....

Suatu kali saya jatuh cinta! Tau ga rasanya? Boong ah, kalo bilang ga tau!
Terus, masalahnya apa? Normal kan…

Masalahnya, saya nyaris kehilangan kendali diri, kehilangan control emosi, kehilangan realitas diri. Saya berubah menjadi orang paling melankolis sedunia, paling romantis (da sebenarnya mah saya dari dulu juga romantis), dan blog saya penuh dengan kata-kata puitis (sebenernya emang puitis dari dulu)

Psstt… jangan komentar dulu! Baca sampe selesai.

Terus… si dia gimana? Ngakunya sih… he love me too…

Aih… aih… jadiin aja!
Engga!
Kenapa?

Because of this loping-loping (jatuh cinta maksudnyah), saya rugi besar. Rugi materi mah bisa diganti. Coba itung, waktu yang udah abis ga kerasa karena pikiran dipenuhi all about him, ga bisa diganti. Ibadah nafilah lolos satu persatu. Hafalan quran belepotan karena ga sempet murojaah. Dan sementara waktu semakin mendekatkan kami, hiks… he choose another women!
Blarrr!!!! langit runtuh! (ini mah hiperbola)

Emangnya dari awal ga sadar?

Sadar! Sadaaaarrrr banget! Sadar kalau seharusnya ketika ada rasa yang mulai bertunas, seharusnya saat itu juga dipagari dengan ma’rifatullah, dipancang dengan quwatusshillah billah. Agar tunas itu mekar, tumbuh, kuat dan berakar nanti saja, pada waktu yang tepat, pada orang yang tepat.

And now… saya kembalikan semua kepada-Nya. Saya hapus namanya dalam memori hati, sebab hanya Dia yang boleh ada di sana. Jika tidak, saya semikin desperate ketika ada yang menyebut nama dan menceritakan tentangnya. Saya putuskan hubungan dan komunikasi dengannya, dan sambungkan kembali komunikasi dengan-Nya.

Kalo dia nanya, biar Ari Lasso yang jawab, hampa terasa, aku telah hilang ditelan bumi. And this loping-loping, let it gone with the wind.

Kenapa saya menulis semua ini? ah! Ambil saja ibrohnya.

At last…
God, kalo seseorang itu bukan jodohku, please deh jauhin, plis…plis… plis.. dan ganti dengan yang lebih baik.
Dan jika ia jodohku maka supaya didekatkan dengan cara-Mu, dan skenario-Mu. entah cinta itu datang sebelum waktunya atau datang sesudah tiba waktunya.

Pandanganku about PAcaran

(pandangan pribadi daku aja kok)"Maap kalo tulisannya agak kasar"menurut daku, pacaran itu istilah yg mengada-ada yang di gunakan sama para idung belang dan pelaku maksiat lainnya."aku kan pacarmu, masa gak mau aku cium""aku kan pacarmu, masa gak mau aku peluk""aku kan pacarmu, masa masa dan masa.., ">buntutnya tek dung....,kalo alesan pacaran supaya bisa mengenal pasangannya lebih jauh..,itu namanya lagi nge bulshit. Soalnya, mengenal orang itu cukup dengan waktu 1 menit.1 menit gak cukup lah? soalnya latar blakang pasangan kita kayak apa kan kita blom tau..!!!(kalo mau mengenal sampe sejauh itu gitu, jadi detektip aja)lagi pula, gak mungkin kita kenal seseorang baru 1 menit, tiba2 langsung naksir. pasti sebelumnya udah kenal dulu lah.kalo emang kenal baru 1 menit, trus langsung naksir, "biasanya" karena "wajah" mungkin ganteng / cantik (nah nah nah.., tanda2 maksiat tuh)kalo emang mau deket sama seseorang(walau pun punya rencana sampe nikah),kanapa juga gak berteman ajah (kayak sahabat karib gitu)tapi kalo berteman buntutnya sampe grepe-grepe juga,wah..., brarti tu orang pelaku maksiat juga(pacaran).kudu di rajam pake besi panas yg segede tiang listrik (bukan pleplah korma)mendingan yang aman-aman aja dah...,misalnya kita naksir sama temen kita (lawan jenis lho),langsung ajah:"hii freennn.. minggu depan nikah yuk" suit suwiiwwww...., apa gak kecepetan tuh?> itukan karena tradisi kita udah ngebentuk pola kayak gitu (pacaran dulu minimal setahun "misalnya", baru nikah)

Pacaran Dalam Pandangan Islam

Assalamu `alaikum Warahmatullahi WabaraktuhAlhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba'd.
Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin berbeda dalam setiap budaya. Karena itu kami tidak akan menggunakan istilah `pacaran` dalam masalah ini, agar tidak salah konotasi.
Pacaran Dalam Pandangan Islam
a. Islam Mengakui Rasa Cinta
Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
"Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik ."(QS. Ali Imran :14).
Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.
Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku".
b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal
Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.
Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.
Bahkan lebih 'keren'nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan 'pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.
Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.
Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.
Sedangkan pemandangan yang lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.
Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.
c. Pacaran Bukan Cinta
Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berentu sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.
Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.
Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.
d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.
Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,"Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa' fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha' Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.
Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta'aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.
Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.
Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.
Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Berjilbablah Sesuai Dengan Ajaran Rasulullah...!!!!!

Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Alloh Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justeru jelek menurut Alloh. Alloh berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allohlah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (Al Baqoroh : 216). Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.Perintah dari atas langitAlloh Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk berjilbab sesuai syari’at. Alloh berfirman, “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (Al Ahzab : 59).Ketentuan jilbab menurut syari’atBerikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrom (bukan ‘muhrim’, karena muhrim berarti orang yang berihrom) yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh penyimpangannya, semoga Alloh memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar ketentuan Robbul ‘alamiin.1.Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (lihat Al Ahzab : 59, An Nuur : 31). Selain keduanya seperti leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red.2.Bukan busana perhiasan yang justeru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik !!! ; ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin. Sadarlah wahai kaum muslimin…3.Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.4.Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian” (HR. Muslim). Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita yang pergi ke kampus-kampus, ke pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis kota dengan parfum yang menusuk hidung ?!. Wallohul musta’an.5.Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori).6.Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. Nabi senantiasa memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.7.Bukan untuk mencari popularitas. Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku ? Apakah kalian ingin terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan ummat ini?. Wallohul muwaffiq.(Disarikan oleh Abu Mushlih dari Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al Albani).

"Pornografi Makin Tak Terkendali......."

Pornografi?Makin Tak Terkendali
Ga tau mau jadi apa negeri ini?setelah heboh ama blue movie "Alam Terbuka Mataram", yang seakan bikin jantung mau copot, soalnya salah satu yang ketangkep adegan adalah anak bekerudung. Kita, generasi muda ibarat ditampar keras oleh munculnya beragam versi VCD porno anak-anak SMA. Ga terhitung lagi berapa banyak versinya. Dan yang lagi anyar-anyarnya nih, ada lagi VCD tentang mahasiswa-mahasiswi padang yang lagi ngelakuin adegan ga senonoh.. itupun udah nyebar di kota-kota besar di negeri ini.Sobat, yang kita sadur dari beberapa media masa lumayan ngeri juga, konon penyebaran VCD itu udah lagi ga bisa kebendung akibat majunya teknologi. Selain lewat internet, dan kaset-kaset VCD gampang aja kita dapet di pinggir jalan, video klip nyeleneh ini katanya bisa diperoleh di kios-kios handphone. Bujubuset..Bertebarannya bermacam media yang sarat ama pornografi udah jadi rahasia umum. Media cetak yang pengen ngeraup untung besar juga ga kalah nampangin gambar-gambar seronok. Dengan harga segelas es cendol aja?anak-anak jalanan, SMP dan SMA bisa dapat tuh, foto dan gambar full color yang berpose sensual dan nantang (emang mau tinju). Belum lagi dengan situs-situs "gelap" yang keliatan "terang" banget di kalangan pornoholic. Kompas Cyber Media (2002) ngelaporin kalo jumlah domain internet yang kadaluwarsa tiap bulannya bertambah dari 750.000 per-bulan menjadi 2.250.000 perbulannya. Nah, situs-situs ini dikumpulin ama tukang tadahnya internet (traffic aggregator) lalu dibeli dan ngarahin lalu lintas web ke situs porno yang tentunya free censored?.Wackss ati-ati loh salah jalan.Memang tak lagi mengherankan, jika yang jadi subyek dan obyek buat ngibarin bendera pornografi sebagian besar adalah remaja. Musti gitu? Sepertinya pangsa pasar remaja buat mamerin hal-hal berbau syahwat dan nafsu udah menduduki top rank. Menjamurnya VCD porno mahasiswa dan anak SMA, maraknya tabloid yang nyetak gambar-gambar sisi gelap remaja, novel-novel bertajuk kehidupan malam, dan segala hal yang menjurus ke sana, udah jadi bukti bahwa remaja sekarang jadi aktor sekaligus penikmat pornografi. Awas danger berat?Akibat yang dahsyat dari pornografi telah menjerat sendi-sendi hidup manusia. Kita kenal istilah KNPI (kissing, necking, petting dan intercourse) dalam berpacaran. Kita juga sering membaca berita di koran tentang kasus pemerkosaan. Bahkan kasus incest yang ngelibatin Bapak, Ibu dan anak, goyang seksi artis-artis dangdut yang ih?nggilani. Belum lagi ortu yang nyuruh si anak menjual diri?hingga kasus penyebaran VCD porno yang merajalela. Heh?rasa napas sesak deh kalo kita terus nyebutin fakta pornografi di sekitar kita.Solusinya Gimana?Solusinya nih kita kudu nggabungkan 3 kekuatan yang ada. Siapa? Tentu saja iman kita, masyarakat dan aturan dari negara.Kenapa iman kita? Hanya dengan benteng inilah diri kita ga kejebak di lubang pronografi. Nah iman kita yang lurus akan kejaga kalo kita sering-sering ikut kajian Islam dan nyadarin teman kita yang lagi salah jalan. Kita juga kudu sering kumpul sama teman-teman yang sholeh dan sholihah agar diri kita jauh dari jangkauan maksiat. Yang laki kudu jaga diri ga boleh ngumbar pandangan yang "miring" ama lawan jenis..apalagi sambil senyam-senyum (bisa dikira gil*). Yang muslimah juga ga boleh bangga mamerin auratnya, seneng digodain apalagi dengan suara yang nggak-nggak, nanti harga dirinya jeblok loh...?Kita juga ga usah liat tontonan yang ngundang nafsu atau membaca hal-hal yang membuat kita jadi viktor (vikiran kotor). Insya Allah bersih deh.Yang kedua itu masyarakat atawa lingkungan kita. Kalo masyarakat udah membiarkan hal-hal berbau pornografi beredar, alamat masayarakat di daerah itu akan jadi jahiliyah. Nah..usaha kita?bisa dengan kontak ama orang-orang yang jadi panutan di masyarakat misalnya ulama, ustad, ketua RT atau RW supaya ngejaga kampung dari hal-hal jorok dan nista. Atau nyebarin buletin di kampung, misal ISLAMUDA buat remajanya?.(ciee..sekaligus nambah area dakwah kita).Yang ketiga itu negara. Ya..negara kudu tanggung jawab ama rakyatnya. Bentuk tanggung jawab itu dengan nerapin syariat Islam. Biar ga ada lagi aparat yang ngedukung peredaran pornograf dan ngelindungi umat dari serangan budaya barat yang sarat dengan kemaksiatan. Jadi sekarang saatnya kita babat tuh pornografi. Allahu Akbar!!

"Pacaran Itu Virus yang Bisa MeNular.....!!!"

"Ikhwan akhwat pacaran????...masa sih???...kok bisa?? dia kan ikhwan banget...ceweknya juga akhwat banget lho"biasanya pertanyaan ini dilontarkan sama kakak-kakak mentor kita yang kurang gaul.. ..ikhwan akhwat juga kan manusia..berarti masih mungkin tuk salah..tapi memang beda banget lho..gaulnya ikhwan akhwat tempo doeloe dengan realita kita saat ini..memang kondisi yang cair saat ini terkadang 'memaksa' kita(ikhwan dan akhwat) untuk masuk ke dalam komunitas yang memang sangat 'cair' batasannya..kita(seorang muslim) lah yang membuat batasan itu agar tetap ada..Pernah denger kan hadits tentang ‘pertemanan’..siapa yang berteman dengan seorang penjual minyak wangi, niscaya akan dapat wanginya, tetapi barangsiapa yang berteman dengan seorang pandai besi, niscaya akan terkena asapnya..Nah bagaimana dengan pacaran..Kayanya ga ada lagi deh diantara kita yang ga tahu pacaran itu apa..Sampe adek2 kita yang masih tk pun udah pada tahu, apa dan bagaimananya aktivitas yang satu ini..Ngomong2 masalah penyakit menular..mungkin akan mudah bagi kita, mengambil sebuah contoh dekat..contoh sehari2..salah satu penyakit menular yang sangat terkenal..karena seringnya ia menghampiri kita ..Namanya adalah penyakit Influenza..atau biasa kita sebut dengan FLU..Kalo kita perhatikan..penyakit ini memang jenis yang paling mudah menular karena media penularannya adalah udara..nah coba bayangkan..kira2 ada ga manusia yang ga butuh sama yang namanya Udara?? (ada!!!!!!!!!!!!!...) manusia apaan tuh (manusia mati alias mayat..hehehe)..yeee..Ga ada kan..jadi semua manusia pasti butuh udara..dan itu berarti setiap manusia yang menghirup udara berpeluang untuk terkena FLU…Btw..gimana sih bros & siss..orang2 yang peluangnya lebih besar untuk terkena FLU..??Ciri2nya begini..pertama, mereka yang bergaul dekat dengan orang yang berpenyakit Flu, lebih berpeluang untuk cepat tertular..karena interaksinya yang cukup dekat..Kedua, mereka yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah akan semakin memudahkan virus Flu untuk menjangkiti tubuh..Makanya kalo ga mau kena Flu..sebelum dan sesudah bergaul dengan yang berpenyakit flu, makan makanan yang bergizi dan bernutrisi..biar daya tahan tubuhnya kuat..jagi ga mudah tertulari…dan jangan lupa kasih tahu teman yang sedang Flu itu, untuk memperbaiki makanan yang ia makan..Okay..cukup dengan Flu-nya..kembali ke masalah pacaran..Pacaran ternyata ga jauh beda sama Flu bros & siss..media penularannya lewat ‘rasa suka’..nah..boleh ditanya deh sama semua manusia normal yang ada dimuka bumi diseluruh jagad alam semesta raya ini (hayah..susah banget sehh)..ada ga manusia yang ga punya rasa suka??..ga ada kan..makanya ga ada orang yang tidak mungkin tertulari penyakit pacaran ini..apalagi kalo kita suka gaul sama mereka yang pacaran..ughh..perasaan..jadi panas aja bawaannya kalo lagi lihat teman2 yang mesra banget..dan entah disadari atau tidak..kita kemudian ‘berazzam’ “gue harus punya pacar!! Harus !!” ditambah lagi ‘daya tahan’ ruh (kalo flu hubungannya sama tubuh, kalo pacaran hubungannya sama ruh) kita yang kadang lemah kadang kuat..karena kurangnya Ruh mengkonsumsi ‘makanan yang bergizi dan bernutrisi’..makanya jangan heran kalo kemudian kita jadi rentan dengan penyakit pacaran ini..Solusinya..pelajari adab gaul islami..dan selalu menjaga makanan yang dibutuhkan oleh ruh agar selalu mengkonsumsi makanan yang ‘bergizi dan bernutrisi’..mencari lingkungan-lingkungan yang sholeh, dan memikirkan setiap nasihat yang sampai kepada kita..Akhir kata..tidak ada kata terlambat untuk sebuah perbaikan..hatta..saat ini kita sedang punya pacar atau ‘cem-ceman’...mumpung Allah masih kasih kita kesempatan baca artikel yang kaya gini.. nobody’s perfect..Allah mencintai mereka yang melakukan dosa dan kemudian mereka menyesal dan bertobat atas dosa yang mereka lakukan dan berusaha dengan sungguh2 untuk tidak mengulanginya lagi dikemudian hari...Selamat putus dari pacar dunia..dan bersiaplah menyambut cinta sang Pemilik Cinta..ALLAH HU AKBAR..

Sulitnya hidup ini kalau tidak kerja

Aduuuhhh, duit itu penting ga sih...? Susah banget kalau di hari-hari kita tanpa membawa duit sepeserpun. Mo cari duit ga ada yang buang, mo kerja di tempat orang aq masih kemudaan (18tahun Gitoo) Wira Usaha di rumah ( Virgo Computer) penghasilanku ga tetap paling banyak cuma dapet 2jt/bln, itupun kalau lagi Hoki, lebih parah lagi kalau nanggung rugi kayak tahun lalu( aq nanggung rugi hampir 3,8jt nih (T_T). Rencananya aq mo cari kerja part time nih, tapi sulit banget kalau masih sekolah. Banyak industri dan perusahaan yang mo menerimaku tapi tidak jadi karena aq masih sekolah. Hix-hix-hix padahal aq butuh duit nih buat bantu orang tua meringankan beban ekonomi untuk biaya aq dan adikku. Sudah banyak nih aq melamar, hampir 70 menanggapi positif pada awal, tapi menjadi gagal di saat mereka tau aq masih sekolah,... Hiiiiihhh aq sebel banget nihhhhh.... Haruskah aq berwira usaha saja?????? Kalau mo berwira usaha modalku dah hampir habis....... Sulit banget sih mo cari kerja ..... Ada ga ya temen-temen bantu aq....?????

MAAF UNTUK BERPISAH

Kau tau tentang hatiku
yg tak pernah bisa melupakanmu
Kau tau tentang diriku yg selalu mengenangmu selamanya
Kini ku sadari bahwa semua itu
Adalah salah dan jg keliruakan membuat hati menjadi ternodai
Maafkanlah s'gala khilaf yang t'lah kita lewati
T'lah membawamu ke dalam jalan yg melupakan Tuhan
Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
Untuk kembali arungi hidup dalam ridho Ilahi
Ku tau bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci yg sejati
Ku yakin bahwa dirimu merindukan kasih sayang yang hakiki
Dan bila takdirnya kita bersama
Pastinya Allah kan menyatukan kita..
Maafkanlah segala khilaf yg telah kita lewati
T'lah membawamu ke dalam jalan
Yang melupakan Tuhan
Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
Untuk kembali arungi hidup dalam ridho Ilahi