This Is My Life Style

Manusia adalah tempat salah dan lupa. Semoga catatan harian ini dapat membantu saudara-saudaraku se-iman dan se-tanah air dalam melangkah. Catatan ini adalah hasil dari kebingungan dan kesenanganku dalam menghadapi hari-hari.

Di Balik Kerudung (Kisah Nyata)

Berikut adalah sebuah kisah nyata yang dikirim dari milist teman.
Ini sungguh kisah sejati ... belum tentu kita bisa menjalani cobaan seberat ini.aku berharap temukan wanita seperti pada kisah ini

Coba baca dgn seksama
step by step...
Insya AllAh bakal terkesan...& mudah2an jd hidayah buat
qta2 semua. Amien
Dan mohon maaf buat yg tidak berkenan, qta ambil
sisi positifnya aja ok...daripada mikir TA trs.....
Meskipun panjang...bgt ceritanya,
tapi harus dibaca secara tuntas agar lebih meresapi.
Jujur ak Takjub... Subhanallah. ..
============ ========= ========= ========= ========= ======

DIBALIK KERUDUNG

(Perjuangan mempertahankan keyakinan)

Assalamualaikum Wr Wb.

Sebelum aku memulai cerita aku ini, izinkanlah aku untuk memohon
maaf apabila ada pihak2 yang tidak berkenan dengan cerita aku ini,
terutama keluargaku. Untuk itu nama2 orang dan tempat tidak akan aku
sebutkan. Aku ucapkan terimakasih untuk Retno (bukan nama
sebenarnya) dari Univ. T. di kotaku yg mau menuliskan kisah sejati
aku ini. Semoga kisah sejati aku ini menjadi inspirasi buat orang yg
membacanya atau mengalami hal yg sama.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan Hidayah pada kita
semua.

Aku, panggil saja "Mawar", beurusia 30an thn dilahirkan di sebuah
pulau di sebrang pulau jawa, di kota P. Aku lahir sebagai anak
terakhir dari 4 besaudara. Kakakku yg pertama dan kedua, laki2,
sedangkan yg ketiga perempuan. Kami berasal dari keluarga keturunan
dan kami merupakan generasi ke 4 yg sudah menetap di negri ini.
Kakek buyut kami merupakan pendatang dari negri jauh dr sebrang di
awal abad 20. Keluarga kami memulai bisnis benar2 dari bawah,
menurut cerita orang tua kami, dulu kakek buyut kami hanya berjualan
dengan pikulan bahan2 kebutuhan pokok seperti gula, garam, beras dll
keluar masuk kampong. Usahanya baru berkembang dengan pesat setelah
pada tahun2 awal setelah kemerdekaan, pemerintah pada waktu itu
mulai menggalakan usaha yg dilakukan oleh bangsa sendiri/pribumi.
Waktu itu dikenal istilah AliBaba. Ali untuk pangggilan pribumi,
sedangkan Baba untuk warga keturunan seperti kami. Waktu itu
pengusaha pribumi asli diberikan kemudahan perizinan usaha, bahkan
mengimport dari negara2 lain, tapi umumnya mereka tidak punya banyak
modal. Waktu itu banyak warga keturunan yg mempunyai banyak modal
kemudian membeli ijin usaha yg diperoleh olah para bribumi tsb,
sehingga mereka secara mudah melakukan export import dengan negri2
tetangga (singapura, Malaysia, hongkong, dll) yg pada waktu itu
memang juga dikuasai olah warga dari etnis kami.

Singkat cerita, bisnis keluarga kami benar2 menjadi semakin besar
dan merambah ke segala bidang, mulai dari pertambangan, tambang
emas, property, perkebunan, dll. Boleh dibilang kekayaan keluarga
kami sudah diatas rata2 dari orang kaya di negri ini, above than
ordinary rich.

Harta kekayan kami yg amat melimpah itu sampai orang tua kami
kadangkala risau seandainya tiba2 kami sekeluarga (tiba2) meninggal
sehingga tak ada yg mengurus harta yg sedemikian banyaknya itu.
Untuk itu kami sekeluarga tak pernah melakukan perjalanan dengan
pesawat secara bersama2. Andai kami sekelurga akan melakukan liburan
pada saat dan tempat yg sama, maka biasanya kami dibagi menjadi 2
atau 3 penerbangan, Papa dan mama satu pesawat, dan kami sisanya
juga dibagi 2 penerbangan yg lain. Sehingga apabila terjadi sesuatu
musibah, maka akan tetap ada bagian keluarga kami yg masih selamat,
dan tetap bisa mengurus bisnis dan kekayaan kami. Aku sengaja cerita
panjang lebar latar belakang keluarga kami, sebab ini akan
berhubungan sekali secara emosi dengan kisah aku selanjutnya.

Papa kami lahir dan dibesarkan di pulau ini, selepas sekolah
menengah atas beliau melanjutkan sekolah bisnis di negri H, sehingga
begitu kembali ke negri ini, beliau manjadi businessman yg amat
handal, dan mempunyai banyak teman2 bisnis di berbagai negara. Papa
sebenarnya orang yg rendah hati, pendiam, bicaranya terukur dan
seperlunya, jarang marah pada anak2nya. Sedangkan mama, sebenarnya
berasal dari pulau lain, dia dulu pernah bekerja pada perusahaan
kakek kami (orang tua dari papa), sebelum akhirnya bertemu papa dan
menikah. Mama orangnya keras, pintar, lincah, banyak pergaulan,
sehingga kadang kami berpikir, papa seperti takluk pada mama. Banyak
kebijakan perusahaan yg berasal dari ide mama, dan memang selalu
sukses. Papa dan mama, memang pasangan yg serasi, saling mengisi
kekurangan. Masa kecil aku lalui dengan penuh kebahagian, dan sejak
SD sampai SMA aku disekolahkan disebuah sekolah swasta terkemuka di
kota kami, yg siswanya banyak berasal dari anak2 pejabat, bupati,
gubernur, dll. Aku berbaur dengan siapapun tanpa memandang golongan,
agama dan ras. Kadang aku diundang untuk mampir bermain kerumah
mereka (anak bupati, gubernur) sepulang sekolah, sehingga aku
mengenal labih dekat dengan keluarga mereka. Ini pula yg kelak
bermanfaat buat perusahaan keluarga aku.

Di sekolah kami, ada pelajaran agama untuk tiap2 pemeluknya. Pada
saat itu tiap ada jadwal pelajaran agama tertentu, maka bagi pemeluk
agama yg lain diperbolehkan keluar kelas, tapi boleh juga tetap
tinggal dikelas apabila memang menghendaki. Jadi misalnya hari ini
giliran pelajaran agama Islam, maka murid2 non muslim diperbolehkan
meninggalkan kelas, begitupula sebaliknya apabila ada pelajaran
agama lain. Tapi aku sendiri sering tetap tinggal dikelas
mendengarkan apa yg diajarkan ibu guru agama Islam di kelas kami.

Saudara2 ku semua....

Entah kenapa aku yg sejak lahir dididik secara non muslim, bahkan
tiap minggu aku beribadah di tempat ibadah kami, merasa tertarik
dengan ajaran agama Islam. Aku sendiri tak tahu datangnya dari mana.
Semacam ada panggilan dari hati aku yg paling dalam, tapi saat itu
aku pikir mungkin itu hanya rasa keingintahuan semata, bukan
mendalami secara jauh dan mendalam. Tiap mendengar azan, entah
kenapa hati aku selalu bergetar. Dirumah kami yg besar, kadang
hanya aku seorang diri, orang tua kami selalu sibuk di Jakarta
sehingga hanya beberapa hari dirumah dalam sebulan, kakak2 aku ada
yg sudah kuliah di luar negri, sehingga rumah mampunyai 6 kamar yg
besar2, yg seharusnya cukup untuk menampung 20 orang, hanya dihuni
oleh aku sendiri. Pembantu, sopir, satpam, tinggal di pavilion kusus
untuk mereka yg terletak terpisah dengan rumah induk. Dalam
kesunyian itu hati aku merasa sejuk tiap mendengar ayat suci Al
Quran yg kadang tak sengaja aku dengarkan di TV.

Kembali ke pelajaran agama di kelas. Entah mengapa aku makin
tertarik untuk mendalami ajaran agama Islam tiap ada pelajaran agama
dikelas. Melihat ibu guru yg mengenakan kerudung, dengan wajah yg
bersih, bersinar, hati aku terasa sejuk. Dengan melihat wajah ibu
guru itu saja aku sudah merasa damai. Tanpa aku sadari kadang aku
mencatat apa yg ibu guru iru ajarkan, bahkan aku mulai hapal diluar
kepala ayat2 yg pendek2. Itu semua benar2 terjadi begitu saja, tanpa
ada aku sadari dan tanpa bisa dicegah oleh diri aku sendiri. Pernah
ibu guru tsb menghampiri aku yg tak sengaja, secara reflex mencatat
pelajaran tetang haji yg dia tulis di papan tulis. Beliau tahu aku
non muslim, dan menghampiri tempat duduk ku, jantung ku derdebar
keras membayangkan kemungkinan aku diusir dari kelas.

Tetapi.....ternyata beliau dengan senyumnya ramah melihat catatan yg
aku tulis, sambil berkata, "Insya Allah kelak suatu saat Mawar
bersama dengan ibu melaksanakan ibadah Haji ya.."

Sejak saat itu hubunganku dengan Ibu guru (sebut saja ibu guru
Aisyah) makin akrab, aku hampir tidak sabar menunggu datangnya hari
pelajaran ibu Aisyah. Hubunganku dengan beliau bagai anak dan ibu.
Tetapi saat itu aku juga tetap mengikuti pelajaran agama yg saat itu
masih aku anut, walau lebih banyak melamun, bahkan tidak mencatat
sama sekali apa yg diajarkan.

Sebagai gadis remaja, tinggiku sekitar 160cm, tentu sedang mekar2nya
dan giat2nya mancari pacar. Teman2ku banyak yg mengatakan kalau
tubuhku indah, proporsional, berwajah oriental, bakalan banyak
menarik perhatian laki2. Plus dengan latar belakang keluarga ku yg
amat berkecukupan, makin banyak laki2 yg tergila2 padaku. Entah
kenapa saat itu aku tidak tertarik dengan laki2 yg berasal dari
etnis ku. Tiap hari jumat melihat siswa2 pria melakukan ibadah
shalat jumat, hatiku langsung bergetar, membayangkan andai salah
seorang dari mereka adalah pacarku, dengan wajah bersih bersinar dan
masih basah tetesan air wudhu, berjalan ke masjid di seberang
sekolah, ah...alangkan indahnya membayangkan wajah2 tersebut. Tapi
saat itu aku tahu diri, aku yg berasal dari etnis keturunan, apakah
ada laki2 pribumi yg mau menjadikan aku pacarnya. Aku tahu masih
banyak dari mereka yg membedakan ras, dan berpacaran dengan ras kami
masih dianggap memalukan, bahkan bisa jadi ejekan dan gunjingan
dilingkungan keluarganya. Aku pernah berpacaran dengan anak bupati
dikota ku, tapi kemudian dia memutuskan hubungan kami, dikarenakan
ayahnya akan mencalokan diri menjadi Gubernur,dan dia tidak mau ada
anggota keluarganya yg bisa menghambat pencalonan tsb. Misalnya
anaknya dengan berpacaran dengan ras lain (??). Walau alasan itu
amat sangat mengada2 tapi aku terima dengan lapang dada. Memang aku
sudah menyadari akan ada penolakan, karena aku berasal dari etnis
non pribumi. Aku tahu orang tuanya tentu tak merestui anaknya
berhubungan terlalu jauh dgn orang yg bukan dari ras mereka, dan
berlainan agama.

Walau begitu hatiku sudah bulat untuk kelak memiliki pasangan hidup
seorang pribumi, dan aku bahkan bersedia memeluk Islam sebagai agama
ku. Kelak keputusan hidupku ini akan menjadi perjalanan panjang dan
penuh cobaan dalam hidupku.

Selepas SMA aku melanjutkan study ke Ausie lalu ke negri paman sam,
mengikuti kakak2 ku yg sudah berada disana. Tak banyak yg perlu aku
ceritakan dgn masa2 studiku disana. Hampir 5 tahun kemudian aku
kembali ke tanah air, dengan gelar master di tangan dan aku mengabdi
ke perusahaan keluargaku untuk membesarkan bisnis mereka. Dalan
waktu singkat perusahaan kami memperoleh profit yg amat meningkat,
dan terus membesar, serta mulai merambah ke banyak sektor bisnis.
Aku banyak memiliki akses ke para petinggi di daerahku karena semasa
sekolahku dulu aku sudah mengenal beberapa keluarga mereka. Semua
urusan perijinan yg menyangkut perusahaanku, bisa aku selesaikan
dengan mudah. Aku masih tetap melajang di pertengahan usia 20an
tahun. Banyak pria2 yg berusaha menarik perhatian ku, dari
pengusaha2 muda yg sukses bahkan sampai pemilik perusahaan2 besar.
Tapi hatiku tak bergetar sama sekali. Aku belum menemukan seseorang
yg benar2 menjadi soulmate ku. Sekedar mencari suami amatlah mudah
bagiku, ibarat hanya menjentikan jari maka puluhan pria akan
mendatangi ku. Tapi aku benar2 mancari seorang soulmate, belahan
jiwa sejati untuk mendampingi ku.

Sampai suatu ketika perusahaan kami memperoleh karyawan baru dari
kantor cabang kami di pulau Jawa. Orangnya 3 tahun lebih tua dari
ku, wajahnya bersih, dia berasal dari etnis pribumi Jawa.
Tuturkatanya lemah lembut, sopan, tubuhnya tinggi, proporsional, dan
ah...ini dia..dia seorang muslim yg shaleh. Sejak kedatangan dia
dikantor kami, para wanita gak habis2nya membicarakan tentang dia,
dan berlomba bisa mendapatkan dia. Menurut laporan kantor kami, dia
amat rajin, jujur dan berprestasi di kantor yg lama, sehingga dia
dipromosikan pekerjaan yg lebih tinggi dan menantang di kantor kami
ini. Kebetulan kerjaan yg akan dia kerjaan akan menjadi satu divisi
dengan ku. Sehingga aku akan banyak berhubungan dengan dia.

Mula2 di bulan2 pertama aku masih bersikap 'Jaim' jaga image, karena
aku ini anak dari pemilik perusahaan ini. Tapi lama2, hatiku gak
bisa berbohong,.. hatiku sedikit tapi pasti, luluh juga...aku mulai
jatuh cinta. Pernah suatu ketika sehabis mengunjungi kantor gubernur
aku satu mobil dengan dia. Ditengah jalan dia minta ijin padaku
untuk berhenti sebentar di masjid raya di kota ku untuk shalat
ashar. Dari dalam mobil, aku perhatikan gimana dia berwudhu, lalu
melangkah masuk ke masjid dan melakukan ibadah....ahhh. .andai aku
kelak bisa mengikuti di belakang.... ...

Awal2nya aku memanggil dia dengan sebutan formal dikantor 'Pak' dan
dia juga memanggilku 'Ibu'..tapi lama2 kelamaan secara tak sengaja
aku mulai memanggil dia 'mas', karena aku sering lihat keluarga jawa
memanggil orang yg lebih tua, suami, kakak, dengan sebutan mas.
Mulanya dia agak rikuh tiap aku panggil demikian, tapi lama kelamaan
mulai terbiasa,. Tapi itu hanya aku lakukan apabila hanya sedang
berdua dengan dia, tidak didepan orang2 kantor. Akupun mulai meminta
dia memanggilku 'Dik', aku merasa risih tiap kali dia panggil
aku 'Ibu Mawar'.

Seiring dengan waktu, sesuai pepatah jawa, "witing tresno jalaran
soko kulino", cinta akan tumbuh karena terbiasa selalu bersama2.

Saudara2ku.. .

Bisa dibayangkan gimana awal kisah cinta kami...didalam mobil yg
disupiri sopirku, kami sama2 duduk dibelakang. Awalnya kami hanya
membicarakan dan membahas berkas2 pekerjaan, kadang secara tak
sengaja tangan kami saling sentuhan. Dan dia secara sopan segera
menarik, dan minta maaf..Ah..sebel rasanya..padahal akulah yg
menginginkannya. Tapi itu tak berlangsung lama, pada akhirnya dia
takluk juga, kadang aku biarkan tangan dia memegang berkas, lalu aku
pura2 membahasnya sambil tanganku menyentuh jari dan tangannya.

Kadang aku genggam jarinya,..dan lama kelamaan dia memberikan
response..dia juga menggenggam tanganku...ahh. .

Kadang kalau mobil kami sudah mau sampai tujuan, aku pura2 minta
supirku untuk kembali ketempat lain, aku pura2 ada yg
tertinggal.. padahal aku hanya ingin berlama2 dengan dia (sebut saja
mas Fariz) di mobil.

Pernah suatu ketika aku pura2 ada yg tertinggal dan suruh sopirku
membawa kami berdua ke rumah ku. Begitu mobil kami memasuki halaman
rumahku yg besar, wajahnya tampak pucat pasi. Dia tampak ketakutan
dan gugup. Dia bilang nanti kalau papaku (alias big boss dia) akan
marah kalau melihat dia jam kerja begini malah mampir kerumah dia.
Aku bilang tak perlu takut, bukankah aku, anaknya big boss, yg
membawa dia kesini.

Hampir setahun sudah dia bekerja bersama denganku, dan hubungan kami
sudah makin erat, tapi dia belum menyatakan cintanya padaku. Mungkin
dia takut aku akan menolaknya, apalagi keyakinan kami pada saat itu
masih berlainan. Hingga suatu ketika dia menelponku, dan mengajak
bertemu disuatu restoran di luar kota, dia memintaku datang tanpa
sopir. Dia tidak mau ada orang kantor yg melihat kami berdua. Di
restoran itu dia menyatakan cintanya padaku...langsung saat itu juga
aku terima. Dan aku katakan pada dia, kalau aku merasa mas Fariz
adalah soulmate ku. Aku akan bersedia memeluk Islam mengikuti agama
yg dia anut. Aku juga katakan kalau memang aku sudah sejak lama
tertarik dengan agama Islam, jadi mas Fariz semoga bisa menjadi
pembimbingku. Aku bisa melihat air mata dia meleleh dari kedua
matanya. Seumur hidupku baru kali ini aku melihat seorang laki2
berlinangan air mata karena aku, tak terasa akupun tak kuasa menahan
airmataku meleleh dipipiku. Aku yakin aku sudah
mendapatkan 'Soulmate' ku dan akan aku pertahankan sampai kapanpun
dan dengan cara apapun.

Di kantor kami tetap bekerja seperti biasa, seperti tak ada hubungan
suatu apapun. Tetapi diluar kantor kami benar2 sepasang kekasih yg
lagi jatuh cinta, dia mulai mengajariku shalat, dan sedikit2 bacaan
doa. Dia memang benar2 lelaki yg taat, dia menjaga kesopananku, tak
pernah melebihi batas, walau kadang aku yg menggoda, tapi dia selalu
bilang, sabar..tunggu tanggal mainnya. Tapi serapat apapun kami
tutupi hubungan kami, akhirnya sedikit demi sedikit bocor juga oleh
orang2 kantor kami. Sampai akhirnya terdengar di telinga papaku.

Sutu hari tiba2 papaku datang ke ruangku, padahal papaku amat sangat
jarang datang ke ruang kerja ku, kalau ada keperluan biasanya aku yg
dipanggil menghadap. Aku lalu diajak bicara berdua dengan beliau.
Mula2 papa tidak menanyakan hubungan ku dengan Fariz, tapi sedikit
demi sedikit dia mulai mengarahkan pembicaraan ke arah sana. Sampai
akhirnya dia menanyakan kebenaran hubungan ku dengan Mas Fariz. Aku
tak sanggup menjawab, wajahku tertunduk. Papaku terus menatapku,
menunggu jawabanku. Aku tak sanggup berbohong, kalau aku bilang
tidak, itu bertolak belakang dengan hati ku, sebaliknya kalau aku
bilang Iya, aku khawatir kerjaan Mas Fariz akan manjadi taruhannya.
Akhirnya aku hanya bisa menangis....

Keesokan harinya, Mas Fariz tidak hadir lagi dikantor,menurut orang2
kantor, dia dipindahkan kembali ke pulau Jawa mulai hari ini, dan
aku mulai kehilangan kontak dengan dia.

Seminggu kemudian dia menelpon ku, dia cerita panjang lebar, bahwa
pada hari itu, setelah papa menemui ku, ternyata papa langsung
menemui dia, dan keesokan paginya dia sudah harus kembali ke kantor
yg lama. Dia juga cerita kalau keadaan makin parah, karena nyaris
tiap karyawan dikantornya sudah mendengar kabar hubungan dia dengan
aku. Dan banyak yang menggunjingkan kalau mas Fariz, mengincar harta
dan kedudukan, karena berpacaran dengan anak pemilik perusahaan. Dia
sampai berulang kali menyebut nama Allah, dan bersumpah kalau dia
mencintaiku bukan karena itu semua.

Dua minggu kemudian, dia memutuskan mengundurkan diri dari perusaan
kami, tapi kami tetap saling berhubungan melalui telp. Dia berjanji
mencoba mancari pekerjaan di perusahaan lain yg punya cabang di
kotaku, sehingga bisa bekerja dikotaku dan kembali menemui ku. Tuhan
memang sudah berencana, akhirnya 3 bulan kemudian mas Fariz sudah
mendapat pekerjaan dan di tempatkan kembali di kotaku walau dengan
gaji yang jauh lebih kecil. Dia bilang sekarang sudah bebas
berhubungan dengan ku, dia tidak ada ikatan apa2 dengan perusahaan
ku. Tak ada yg bisa melarang. Aku amat terharu, dia korbankan karir
pekerjaannya karena aku. Aku berjanji apapun yg terjadi aku tak akan
tinggalkan dia.

Sekarang kami bebas behubungan tak perduli lagi dengan omongan
orang2 kantor, karena dia toh tak lagi bekerja di perusahaan kami
ini. Tapi ternyata papa kembali mengetahui ini, dan kali ini malahan
mama ikut turun tangan. Aku diceramahi habis2an..

Mereka sebenarnya tidak membeda2kan ras, mereka tidak keberatan aku
berhubungan dgn siapapun, tapi mereka mulai curiga kalau aku mulai
akan pindah keyakinan. Dan itu mereka kurang bisa menerima. Aku
sudah jelaskan baik2 bahwa aku sudah cukup dewasa dan bisa mengambil
keputusan buat hidupku sendiri tanpa tergantung papa dan mama.
Ternyata jawabanku yg demikian itu membuat mereka tambah murka dan
tersinggung. Mereka katakan bahwa tanpa mereka jalan hidupku tidak
akan seperti ini. Banyak orang yg akan rela mati demi merasakan
hidup seperti ku. Rumah mewah, sopir tersedia tiap saat, mobil mewah
ada di garasi, uang melimpah, dihormati kemana aja pergi, dll.
Mereka juga katakan, tanpa mereka aku tak akan pernah sanggup
memperoleh kehidupan spt ini. Aku hanya menangis mendengar apa yg
mama papa ku katakan. Tapi hatiku sudah bulat apapun yg terjadi aku
tak akan tinggalkan Mas Fariz. Cinta pertamaku dan terakhir.

Walau orang tua ku terus menentang, cintaku ke mas Fariz tak pernah
surut. Akupun makin giat memperdalam agama Islam. Seringkali aku
saat istirahat kantor, aku pergi ke toko buku besar di Mal. Aku
baca2 buku tentang Islam. Pernah aku ajak orang kantor untuk ikut
aku ke toko buku tsb. Dan dia tegur aku, karena dia pikir aku salah
memilih bagian rak buku. Dia ingatkan aku kalau aku di bagian rak
buku2 Islam. Aku bilang memang benar, aku mau membaca buku2 tentang
Islam.

Makin hari hubunganku dengan papa mama makin renggang. Padahal aku
sudah bicara sebaik mungkin dengan mereka. Kakak2ku semuanya juga
sudah terprovokasi. Mereka mulai menjauhiku. Kedua kakak laki2 ku
sudah menikah dan menetap di Jakarta menjalankan perusaahan kami
disana, sehingga papa dan mama sekarang lebih banyak menetap dikota
kami.

Dirumah, perlakuan mereka makin hari makin berubah terhadap ku. Aku
makin dianggap bukan lagi bagian keluarga mereka. Tiap makan malam,
mereka tak lagi mengajakku makan bersama2 di meja makan. Pembantu
dirumah baru disuruh memanggilku untuk makan apabila papa mama dan
kakak perempuanku sudah selasai makan, dan makanan yg ada dimeja
makan, sisa mereka, yg aku makan. Pembantu tidak diperbolehkan
menambah makanan. Bayangkan, aku memakan seadanya sisa dari mereka.
Andai mereka makan ayam, maka aku hanya tinggal kebagian ceker dan
kepalanya saja. Bisa dibanyangkan bagaimana sakit hatiku rasanya.
Tapi aku tetap bersabar, dan mas Fariz selalu mengingatkan aku untuk
tetap berbakti pada orang tua. Padahal kalau aku mau, bisa saja aku
pergi ke restoran yg paling mahal di kota ku ini.

Puncak dari semua itu terjadi pada suatu malam.

Kakak perempuanku memang sebenarnya kasihan kepadaku, sehingga
kadang dia menyimpan sebagaian makanan yg baru dimasak didapur.
Sehingga pada saat mama papa selesai makan, dia diam2 menghidangkan
untukku. Suatu ketika secara tak terduga, papa mama ku kembali ke
meja makan, dan mereka memergoki kakak ku yg membawa makanan yg dia
simpan di dapur untukku. Langsung mamaku merebut piring yg dibawa
kakakku, dan melemparkannya ke lantai..Sambil menyindir, bahwa
kakakku tak perlu kasihan pada ku, karena aku sanggup hidup tanpa
diberi makan dari mama papa dan bisa hidup mandiri tanpa mereka.
Ohh....Mereka rupanya sudah amat membenciku.. .Hancur berkeping2
hatiku pada saat itu. Aku hanya bisa menangis, tapi aku tak
menyesal, dan aku akan terus bertahan dengan pilihan hidupku.

Mas Fariz, menyarankan aku untuk bicara baik2 dengan mama dan papa,
mudah2an mereka akan luluh dan mengerti. Suatu malam, aku
berkesempatan mendatangi dan berbicara dengan mereka, dan aku secara
baik2 dan sopan, tak lupa meminta maaf apabila aku salah pada
mereka. Aku jelaskan baik2 pada mereka apa yg hatiku rasakan, aku
tumpahkan semuanya. Tetapi justru itu membuat mereka tambah murka,
mereka juga malah menuduhku telah diguna2, dan menyarankanku supaya
sadar. Oh Ya Allah...Aku sehat wal afiat, Insya Allah saat itu tak
ada satupun guna2 pada diriku. Semua keinginanku adalah murni dari
hatiku, panggilan jiwaku, yg tak bisa lagi aku cegah. Aku jelaskan
pada mama dan papa, bahwa aku sudah cukup umur, dan bukan lagi gadis
remaja lagi, sehingga apapun keputusanku, aku bisa
pertanggungjawabkan . Aku bisa mandiri andai keputusan hidupku itu
memang menghendaki demikian. Papa dan mamaku tetap pada pendirian
mereka, bahkan mereka menantangku, kalau sanggup hidup mandiri,
sekarang juga serahkan seluruh harta ku yg aku punya selama ini, yg
aku dapat selama hidup dengan mereka.

Karena tekatku sudah bulat. Malam itu pula seluruh kartu credit,
ATM, buku2 bank, aku serahkan pada mereka. Uang yg aku punya benar2
hanya tinggal yang ada di dompetku. Aku sepertinya tinggal menunggu
waktu saja untuk meninggalkan rumah ini. Keesokan paginya, karena
ada suatu keperluan aku ingin membuka lemari besi tempat penyimpanan
surat2 berharga di rumah kami. Tetapi berulang kali aku mencoba, aku
tak bisa membukanya. Ternyata nomor kombinasinya sudah diubah olah
mama papaku. Padahal didalamnya ada barang2 penting pribadiku,
seperti Ijasah, perhiasan, dll. Aku mencoba menelpon papaku,
menanyakan hal ini, dan lagi2 aku mandapatkan jawaban yg menyedihkan
hatiku. Papaku menyindirku, kalau sanggup hidup mandiri, kenapa
masih mau membuka lemari besi milik keluarga, pasti ada barang2 yg
mau dijual didalamnya. Aku benar2 sudah dikucilkan, dan mereka
benar2 mencoba menyiksaku dengan cara demikian, sehingga mereka
pikir aku akan menyerah, dan akhirnya mengikuti apa yg mereka mau.
Aku adukan semua itu ke mas Fariz, dan aku katakan kalau aku akan
meninggalkan rumah orang tua ku. Dia tak bisa berkata apa2. Hanya
ingatkan aku jangan sampai memutus silaturahmi dengan orang tua.

Saudara2 ku..

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku benar2 meninggalkan rumah.
Aku akan tinggal kost didekat kantorku. Aku berpamitan baik2 pada
mama dan papa ku. Tapi mereka menolehpun tidak. Aku masih punya
cukup uang di dompet. Aku bersumpah tak akan meminta uang lagi
sepeserpun dari mereka. Aku bertekad membuktikan kata2 ku untuk
hidup mandiri tanpa harta siapapun demi mempertahankan keyakinan ku.
Selama aku bekerja diperusahaan papaku, memang secara formal aku di
gaji sesuai dengan posisi kerjaku di perusahaan.Tapi disamping itu
tiap bulan, tentu diluar formal perusahaan, aku mendapat uang saku
dari papa ku yg lumayan banyak, hampir 20x lipat dari gaji resmiku.
Sehingga penghasilan total sebulan bisa cukup untuk hidup mewah
setahun. Bahkan seluruh uang simpananku di bank, sudah mencapai
10digit. Tentu bukan jumlah sedikit. Bahkan mungkin cukup untuk
biaya hidup seumur hidupku tanpa bekerja.

Aku berharap perusahaan papaku masih memberikan gajiku, dan itu aku
anggap memang uang hasil kerjaku, bukan pemberian. Tapi diakhir
bulan aku tak memperoleh sepeserpun. Aku sudah meminta agar bisa
diberikan cash. Ketika aku tanyakan ke bagian pembayaran gaji,
ternyata mereka sudah diperintahkan papaku untuk menahan gajiku. Ya
Allah, mereka benar2 melakukan cara apapun agar aku benar2 menderita
dan pada akhirnya menyerah.

Saat itu juga aku langsung mengundurkan diri dari perusahaan papaku
itu. Aku tinggalkan perusahaan itu selama2nya.

Ketika aku adukan hal ini pada mas Fariz dia amat sangat sedih dan
meminta maaf padaku, karena gara2 dia hidupku jadi menderita. Dia
rela andai aku tidak kuat dan merubah keputusan. Aku peluk dia, dan
aku pastikan keputusanku tak akan berubah, dan aku makin ingin bisa
hidup bersama dia. Saat itu hanya dialah sandaran hidupku. Dengan
berlinangan air mata, dia sekali lagi menanyakan padaku, apakah aku
menyesal dengan keputusanku, dan apakan aku rela bila menjadi
muslimah dan menjadi istrinya. Saat itu juga aku cium tangannya, dan
aku katakan, aku korbankan seluruh kehidupanku hanya untuk bisa
hidup bersamanya, dan aku tak akan mudur ataupun menyesalinya,
apapun yg terjadi aku akan hadapi iklas lahir dan batin.

Singkat cerita, dengan diantar mas Fariz aku mengucapkan 2 kalimah
sahadat di sebuah masjid dikota kami, disaksikan imam dan beberapa
jemaah masjid tsb. Akhirnya penantian panjangku tercapai sudah,
walau harus mengorbankan kehidupanku. Tapi aku tak pernah menyesali.

Mas Fariz lalu mengajakku segera menikah di kota kelahirannya,
karena kebetulan perusahaan tempat dia bekerja akan memindahkan dia
ke pulau Jawa.

Sebelum menikah, kami berdua mendatangi rumah papa dan mama, kami
akan mohon restu baik2 pada mereka. Tetapi bapak satpam yg berjaga
dipintu gerbang mengatakan kalau dia diperintahkan untuk tidak
membuka pintu apabila kami berdua datang. Sebenarnya bapak satpam
tersebut bersedia membuka pintu karena dia masih mengenalku. Tapi
aku melarangnya, karena khawatir akan mencelakakan pekerjaan dia.
Biarlah cukup aku saja yg menderita, aku tak ingin orang lain ikut
terkena akibatnya. Aku tinggalkan secarik surat, yg isinya memohon
doa restu dari mama papa, bahwa aku akan menikah dengan mas Fariz,
juga aku katakan kalau aku sudah jadi muslimah. Aku bisa lihat mata
bapak satpam itu berkaca2 sewaktu aku katakan aku sudah jadi mualaf.

Awalnya keluarga mas Fariz menanyakan ketidakhadiran keluargaku
dipernikahan kami. Tapi setelelah mas Fariz ceritakan panjang lebar,
akhirnya keluarga mau memahami. Kami menikah secara sederhana di
kota tempat keluarga mas Fariz bermukim. Keluarganya amat sangat
menerimaku dengan hangat, mereka sama sekali tidak mempermasalahkan
ras keturunanku. Malah ibu mertuaku amat sayang padaku.

Setelah menikah, aku dan mas Fariz menetap di pulau Jawa. Aku amat
sangat bahagia, bisa menjadi pendamping hidup dia. Aku merasakan dia
bukan sekedar suami, tapi memang benar2 soulmate hidupku, yg aku
cari2 sepanjang hidupku.

Aku hidup dirumah yg sederhana dan hari2ku aku lalui dengan penuh
kebahagiaan, dan aku tak mengeluh sedikitpun dengan yg mas Fariz
berikan untukku. Aku tak lagi bekerja, karena aku benar2 ingin
mengabdi pada suamiku, dan disamping itu semua ijasahku masih
tersimpan di lemari besi di rumah mama papa, aku tak bisa melamar
pekerjaan dimanapun. Aku juga tak mau meminta surat keterangan
bekerja di perusahaan papaku. Aku ingin buktikan bisa hidup mandiri
dengan suamiku. Mas Fariz amat sangat menyayangiku, tiap pagi
sebelum berangkat ke kantor dia memeluku. Tiap hari aku bawakan
dia 'lunch box' untuk makan siang karena aku tak mau makanan yg
masuk ke perutnya berasal dari masakan orang lain. Aku benar2
posesif, ingin memiliki dan melayani dia secara total. Setiap hari
aku bangun sebelum dia bangun, dan aku baru tidur setelah dia benar2
tidur, untuk memastikan dia sudah benar2 tak perlu aku layani lagi.
Aku siapkan celana, baju, kaus kaki dia tiap pagi sebelum berangkat
kerja. Sehingga dia tak perlu lagi memikirkan pakaian apa yg harus
dia pakai tiap pagi. Bahkan aku potongkan kukunya bila sudah panjang
Pokoknya dia benar2 aku jadikan pangeran bagi diriku.

Tiap malam sebelum tidur, kami selalu mengobrol dan saling
mengajarkan bahasa. Dia mengajariku bahasa jawa, sadangkan aku
mengajari dia bahasa mandarin. Dia amat cepat belajar mandarin,
dalam waktu singkat dia sudah menguasai beberapa kata2 yg umum
diucapkan, kadang dia mengajak ku bicara mandarin dirumah. Memang
perusahaan tempat dia bekerja milik keluarga dari etnis keturuan
seperti aku, dan banyak behubungan dengan warga keturunan, sehingga
bila mampu berbahasa mereka akan merupakan keuntungan tambahan.

Suatu ketika dia pulang membawa sepeda motor, dia katakan kalau
kantornya memberinya pinjaman cicilan motor. Memang hanya sepeda
motor, tapi aku sangat bahagia sekali dengan yg dia dapatkan.
Berulangkali dia minta maaf tidak bisa belikan aku mobil mewah
seperti yg aku pernah aku miliki dulu. Aku katakan pd dia motor yg
sekarang kita miliki bagiku jauh lebih mewah dari mobil yg dulu aku
miliki. Karena motor ini bukan sekedar dibeli dengan uang, tapi juga
cinta, yg tak akan ternilai berapapun banyaknya uang.

Kehidupan perkawian kami amat indah, kalau dirumah nyaris kami tak
bisa berjauan. Karena tiap hari bagi kami adalah bulan madu, maka
hanya setahun kamudian lahirlah anak pertama (dan satu2nya) kami.
Bayi laki2 itu kami namai ,sebut saja 'Faisal'. Mas Fariz yg
membacakan Azan dan qomat, ketika bayi kami lahir. Aku merasa
lengkap sudah kebahagiaanku. Tiap hari aku tambah bahagia bisa
merasakan ada 2 orang "Fariz" didalam rumahku. Saat mas Fariz ke
kantor, aku di temai Fariz kecil, bayiku. Oh alangkah bahagianya.
Aku mencintai 2 orang yg sama darah dagingnya.

Tiga tahun sudah anak kami hadir bersama kami. Mas Fariz terus
bercita2 ingin mendatangi orangtua ku, oma opa si Faisal. Dia benar2
ingin memperkenalkan cucu mereka dan menyatukan aku dengan papa mama
ku lagi. Dia berharap dengan kehadiran Faisal, akan meluluhkan hati
orang tuaku. Tapi tiap kali aku menelpon papa mama ku masih bersikap
seperti dulu, bahkan waktu aku katakan bahwa mereka sudah mempunyai
cucu dari ku, mereka hanya menjawab, kalau mereka tidak merasa
mampunyai keturunan dari ku..Ohh malangnya anakku. Aku amat sedih,
teganya papa dan mama ku berkata spt itu. Aku masih memaklumi
apabila mereka membenciku, tapi jangan pada anakku, cucu mereka,
darah daging mereka sendiri.

Mas Fariz hanya menyuruhku bersabar, dia percaya kelak papa dan mama
akan menerima mereka. Tapi sebelum harapan mas Fariz terpenuhi,
musibah mulai datang....

Suatu ketika, mas Fariz pulang kerumah lebih awal, dia Cuma merasa
gak enak badan seperti orang masuk angin.Aku menyuruhnya segera
istirahat dan tidur, dan memberi obat penghilang sakit. Malam
harinya, tubuhnya mulai panas dan menggigil. Keesokan paginya aku
mengantar dia ke dokter, waktu itu dokter hanya katakan kalau mas
Fariz hanya demam biasa sehingga hanya diberi obat penurun panas,
dan disuruh istirahat. Tapi malamnya tubuh nya tetap panas, dan
menggigil, bahkan sampai mengigau. Aku sudah ajak mas Fariz untuk ke
rumah sakit keesokan harinya. Tapi dia menolak, karena dia bilang
hanya demam biasa, dan tak apapa, beberapa hari pasti sembuh. Sampai
hari ke empat kondisinya makin parah, akhirnya disampai tak sadarkan
diri, bahkan dari hidungnya kaluar darah. Dengan pertolongan para
tetangga, suamiku segera dibawa ke RS. Hasil pemeriksaan daranhnya
menunjukan trombositnya hanya tinggal 26ribu. Padahal orang normal
harus diatas 150rb. Suamiku terkena demam berdarah, Dokter
menyalahkan aku kenapa tidak segera dibawa ke RS lebih awal, karena
serangan terberat demam berdarah adalah pada hari 5. Kalau kondisi
tubuh tidak kuat, bisa amat berbahaya. Besoknya, hari ke 5, memang
benar2 makin parah kondisi suamiku, napasnya makin berat,
trombositnya belum beranjak naik, tubuhnya udah benar2 digerogoti
penyakit itu., malam itu setengah mengigau, dia memanggil namaku,
lalu aku genggam tangannya dan aku dekati telingaku ke mulutnya, aku
bisa dengarkan dia mencoba mengucapkan sesuatu, dan air matanya
meleleh. Dia coba ucapkan kata2 "Maafkan aku" lalu aku tenangkan
dia, kalau tak ada yg perlu dimaafkan. Aku iklas lahir bathin
mendampingi dia. Setelah mendengar kata2ku, dia tampak tenang, lalu
dengan satu tarikan napas dia coba mengucapkan "Lailahailallah" lalu
dia pergi selama2nya meninggalkan aku. Dia pergi di pelukan ku. Aku
ingat suatu ketika dia pernah berucap, andai Tuhan mengijinkan, dia
ingin meninggal terlebih dahulu dari aku, dan dalam pelukanku, sebab
ia ingin aku menjadi orang terakhir dalam hidupnya yg dia lihat. Aku
sempat memarahi dia, jangan bilang seperti itu. Tapi dia bilang
serius, kalau dia gak akan sanggup kalau aku yg menginggalkan dia
terlebih dahulu. Ternyata Tuhan benar2 mengabulkan permohonan dia.
Orang yg aku jadikan sandaran satu2nya dalam hidup ini telah pergi
selama2nya. Tak terkirakan amat sedih dan hancurnya hatiku. Andai
aku tak ingat dengan si kecil Faisal, mungkin aku sudah ingin segera
mengusul mas Fariz dialam sana.

Mas Fariz benar2 orang yg jujur dan baik, waktu penguburan seluruh
rekan2 kerja, bahkan big boss tempat bekerja hadir. Waktu aku
tanyakan apakah ada hutang piutang mas Fariz yg harus aku
selesaikan. Mereka katakan tidak ada sama sekali, bahkan kantornya
memberikan santunan 4x gaji, ditambah uang duka dari rekan2nya. Aku
juga ditawarkan bekerja di perusahaan tsb. Tapi untuk saat itu aku
benar2 gak sanggup melakukan apapun. Aku merasa setengah dari
nyawaku sudah hilang. Selama 3 bulan aku berduka, aku tak sanggup
pergi dan melakukan apapun. Bahkan tiap tidur, aku masih
membayangkan mas Fariz disampingku. Akhirnya untuk semantara waktu
aku tinggal dengan ibu mertuaku, supaya Faisal ada yg mengasuh.
Rumah dan motor aku jual, karena aku tak sanggup membayangkan
kenangan bersama mas Fariz tiap aku melihatnya. Hampir setengah
tahun tinggal dengan mertuaku, sampai akhirnya aku putuskan kembali
ke kota asalku. Sebenarnya ibu mertuaku amat baik dan sayang padaku.
Tapi aku tahu diri gak mungkin selamanya bergantung pada siapapun.
Aku harus bisa mandiri, membesarkan anakku, satu2nya hartaku yg
tersisa.

Aku pulang ke kota asalku dengan sisa uang yg aku punya.Lalu aku
mengontrak rumah, dan membuka toko kecil2an di depannya. Tetapi
mungkin karena aku masih terus berduka dan terbayang suamiku,
sehingga aku kadang kurang memikirkan usahaku ini, sampai akhirnya
usahaku ini bangkrut. Tokokupun aku tutup, uangku habis untuk
membayar tagihan2 para suplier barang, semantara penjualanku tak
seberapa menguntungkan.

Aku sebenarnya tidak pernah putus asa, apapun aku jalani asal halal.
Pernah aku coba jadi pelayan restoran, tapi hanya beberapa bulan ,
karena anakku tak ada yg jaga. Sampai akhirnya aku benar2 kehabisan
uang, tak sanggup lagi membayar kontrakan. Dengan mambawa koper isi
pakaian, aku menggendong anakku, berjalan tanpa tujuan. Aku benar2
bingung akan kemana. Pernah terlintas di benakku untuk kembali ke
keluargaku. Tapi justru dengan kondisi seperti ini mereka pasti akan
merasa menang. Mereka akan tertawa terbahak2 dan terus bisa
mengejeku seumur hidupku, bahwa aku gagal dalam memilih jalan hidup.
Akhirnya ditengah rasa putus asa, aku teringat masjid tempat dulu
aku pertama kali mengucapkan kalimat sahadat. Masjid itu memang
bukan masjid raya dikota kami, tapi karena masjid yg tua dan
bersejarah, maka banyak jemaah yg datang. Aku berpikir, dulu aku
memulai jalan hidupku dari masjid itu, sehingga kalaupun jalan
hidupku berakhir aku ingin di masjid itu pula. Aku datangi masid
tsb. Dan aku shalat mohon petunjuk. Anakku karena kelelahan tertidur
di sampingku. Aku tak punya uang untuk membeli makanan. Akhirnya aku
hanya bisa menangis. Rupanya tangisku didengar oleh seorang bapak,
dan beliau rupanya imam masjid tersebut, dan dia yg dulu
membimbingku membaca sahadat. Aku tak lupa dengan wajahnya, tetapi
dia pasti sudah tak ingat dengan wajahku, karena wajahku tak sesegar
dulu lagi. Sewaktu aku perkenalkan diriku dan aku katakan bahwa aku
dulu mualaf yg beliau bimbing, dia langsung ingat tapi juga kaget
dengan kondisiku yg seperti ini.

Akhirnya aku ceritakan semuanya pada beliau, sebab aku merasa tak
ada lagi orang di dunia ini yg aku jadikan sandaran hidupku.

Setelah selesai mendengar ceritaku, dia menyuruh aku agar jangan
pergi kemana2, dan tetap tinggal di masjid, beliau juga menyuruh
salah seorang jemaah untuk membelikan makanan untuk aku dan anakku.
Sebentar kemudian dia pergi meninggalkan ku, sambil berpesan akan
segera kembali menemuiku (rupanya dia pergi mencari tempat untuk aku
bisa tinggali). Tak lama beliau kembali menemui ku, sambil tersenyum
dia katakan, mulai malam ini aku sudah memperoleh tempat tinggal.
Aku diajak ke belakang masjid, disitu ada sebuah bagunan tambahan yg
terdiri dari beberapa ruangan. Biasanya ruangan itu untuk gudang
menyimpan peralatan masjid, seperti tikar, kursi2, dll. Salah satu
ruangnya tampak sudah kosong, dan dia menunjuk bahwa itu lah rumah
ku. Aku boleh menempatinya selama mungkin aku mau. Ruang
disebelahnya ditempati olah pak tua penjaga masjid, sehingga aku ada
yg menemani. Ruangan tsb hanya berukuran kurang lebih 2x2m. Pak Imam
masjid itu juga menambahkan, kalau nanti aku diberikan honor
sekedarnya, kalau mau membantu2 membersikan masjid, sehingga cukup
untuk makan. Bahkan beliau menambahkan kalau aku bisa datang
kerumahnya sekedar2 membantu2 istrinya memasak, kerena memang rumah
beliau hanya beberapa ratus meter dari masjid.

Alhamdulilah, aku amat bersykur ternyata Allah mendengar doaku. Aku
ingat, bahwa Allah tak akan menguji hambanya dengan melebihi beban
yg sanggup dia pikul. Aku sudah bersykur bisa memperoleh tempat
berteduh, walau hanya kamarnya kecil (jauh lebih kecil dibanding
kamar mandiku, saat dirumah orang tuaku). Ada lagi yg membuatku
merasa tenang, karena ku tinggal berdekatan dengan rumah Allah, tiap
aku merasa sedih, aku tinggal masuk kedalam masjid, dan mengadukan
langsung pada Allah. Karena tinggal dekat dgn masjid, otomatis
sahalatku tak terlewatkan sekalipun. Alhamdulilah hidupku sedikit2
demi sedikit mulai tenang. Aku sering membantu istri pak Iman
memasak dirumahnya, dan sebagai imbalannya, beliau selalu membekali
makanan untuk aku bawa pulang. Sehingga aku tak perlu risau
memikirkan makanan sehari2. Kalau pak Imam sekeluarga ada keperluan
keluar kota, akulah yang dititipi untuk menjaga rumahnya, dan aku
bisa tinggal dirumahnya. Sebenarnya mereka sudah menawarkan aku
untuk tinggal bersama mereka. Tapi aku tahu diri tak mau terus
menerus merepotkan orang lain.

Pekerjaanku rutinku tiap hari adalah, membersihkan halaman masjid,
membersihkan kaca2 jendela, Sedangkan pak tua mengepel lantai
masjid. Tiap minggu aku mendapakan honor sekedarnya dari hasil kotak
amal di masjid, tapi kadang aku tak mendapatkan sepeserpun, karena
kadang sudah habis untuk keperluan masjid, tapi aku lakukan itu
dengan senang hati dan iklas. Sementara ini aku benar2 ingin
mengabdi pada Masjid ini, sebagai tanda terimakasih ku. Aku tak mau
bersusah payah kesana kemari mencari pekerjaan, Aku percaya kelak
masjid ini pula yang akan memberiku jalan memperoleh pekerjaan.

Kadang malam hari aku duduk2 diteras masjid, mengobrol dengan pak
tua. Dia bercerita kalau anak2nya masih ada di kampung, tapi dia
juga tak mau merepotkan anak2nya. Selama masih kuat, dia tak mau
merepotkan orang lain. Lalu saat giliran aku cerita, kadang aku
bingung harus cerita apa..??? Apa aku ceritakan kalau dulu aku
pernah naik kapal pesiar keliling eropa, atau aku pernah menginap di
hotel mewah di las vegas, atau aku punya apartment mewah di
Australia..Ahh pasti dia akan tertawa dan menganggap aku berhayal,
sebab jangankan tinggal dihotel, sekarang ini uang yg aku punya tak
lebih banyak dari 20ribu..

Dulu tiap minggu aku bisa membeli peralatan make up, eye shadow,
lipstick, dll jutaan rupiah. Sekarang ini make up ku hanyalah air
wudhu ku tiap aku shalat. Tetapi justru banyak yang mengatakan kalau
wajahku tetap bersih, cantik, alami. Kadang orang berpikir aku masih
memakai make up. Yah..mungkin Allah yang memakaikan make up untuk
ku. Kecantikan datang dari dalam. Inner Beauty. Banyak yg bilang,
dengan mata sipit ku dibalik kerudung, aku terlihat cantik.

Tak terasa aku sudah hampir 2 tahun menetap di masjid itu, anakku
sudah sekolah di SD dekat masjid milik suatu yayasan dan tanpa
membayar sepeserpun. Aku hanya membelikan seragam dan alat2 sekolah.
Bahagianya hatiku melihat anakku sudah masuk sekolah..oh, seandainya
mas Fariz masih ada dan melihat anak kita dihari pertama pergi ke
sekolah.. Anaku rupanya tumbuh besar dalam keprihatinan, sehingga
dia sangat tahu diri, dia tak pernah sekalipun merengek2 minta
dibelikan ini itu seperti layaknya anak2 lain. Pernah hatiku amat
terenyuh. Ketika dia pulang sekolah dengan kaki telanjang, sambil
menenteng2 sepatunya. Sambil tertawa, tanpa mengeluh, dia malah
menunjukan sepatunya kepadaku "Ma, sepatu Faisal udah minta makan".
Maksudnya sepatunya udah robek depannya, seperti mulut minta makan.
Melihat dia tertawa, akupun ikutan tertawa, walau hatiku rasanya
ingin menangis. Andai dia tahu, dulu mamanya selalu memakai sepatu
berharga jutaan rupiah, sekarang ini membelikan sepatu anaku yg
murahpun aku belum sanggup. Alhasil selama 2 hari anakku kesekolah
memakai sepatu yg robek itu, sampai akhirnya aku belikan sepatu
bekas.yg lebih layak dipakai. Aku bersykur mempunyai anak yg amat
tahu diri. Tak mau membebani ibunya. Memang anak yg shaleh akan
menjadi bekal yg amat bernilai buat orang tua. Pak Imam mesjid
kadang menengok kami, dan menanyakan keadaan kami. Dia sering
cerita, gimana istri nabi Muhammad dulu hidupnya jauh lebih
menderita, tetapi tetap tabah menghadapi cobaan dan tak goyah
keimanannya. Beliau kadang bilang, kalau aku pasti akan jadi ahli
surga. Berulangkali dia bilang, kalau orang lain gak akan mungkin
sanggup menghadapi cobaan ini, tapi aku tetap bertahan memegang
keyakinan, meninggalkan kenikmatan dunia yg justru pernah aku
peroleh.

Suatu siang, aku melihat ada mobil datang ke halaman masjid, dari
dalam mobil itu keluar 2 orang yg aku masih kenal. Yang satu
perempuan bernama tante Grace, yg satunya lagi laki2 oom Albert.
Mereka berdua merupakan lawyer untuk perusahaan dan keluarga kami.
Entah gimana mereka bisa mengetahui aku ada disini. Mereka mambawa
sebundel amplop, dan mengajak aku berbicara. Aku bisa lihat mata
tante Grace yg memerah menahan air mata sewaktu dia melihat tempat
aku tinggal. Bahkan oom Albert suaranya bergetar seperti lehernya
tersekat menahan sedih. Mereka katakan diutus oleh orang tua kami.
Karena orang tua kami sudah tahu gimana keadaan ku sekarang. Mereka
katakan didalam amplop yg mereka pegang isinya surat2 bank, ATM,
Ijasahku, yg bisa aku miliki lagi. Bahkan aku dijemput untuk pulang
ke rumah mama papa ku. Sejenak aku berbahagia, aku pikir orang tuaku
sudah terbuka hatinya, aku bisa pergunakan uang yg cukup banyak itu
untuk hidup yg lebih baik dgn anakku. Tetapi dengan suara terpatah2
om Albert melanjutkan, bahwa mama dan papa memberi syarat. Ketika
aku tanyakan apa syaratnya. Mereka berdua nyaris tak sanggup
melanjutkan pembicaraan. Tante Grace makin menunduk menahan tangis.
Akhirnya om Albert mengatakan kalau syaratnya aku dan anakku harus
kembali ke keyakinan yg dulu aku anut. Saat itu juga aku langsung
menjawab, kalau aku tak akan mau menerima amplop itu, dan aku
katakan agar kembalikan ke orang tuaku. Mereka amat sangat minta
maaf padaku, karena mereka tahu aku tersinggung. Tapi aku juga sadar
mereka hanya menjalankan tugas. Bahkan tante Grace menambahkan,
andai mengikuti hati nurani pasti mereka udah serahkan itu amplop
pada ku tanpa syarat apapun, tapi mereka terikat profesi mereka.
Akhirnya mereka pamit meninggalkan ku. Tapi beberapa saat kemudia
mereka balik kembali menemui ku, aku pikir mereka akan membujukku.
Tapi rupanya mereka berinisiatif memfoto copy ijasah2 ku dan
menyerahkan copynya ke aku. Mereka lakukan atas inisiatif mereka
sendiri, walau dengar resiko kehilangan pekerjaan. Mereka katakan
hanya itu yg bisa mereka bantu untukku. Oh terima kasih
tuhan...Sedikit2 Tuhan memberikan jalan untuk ku.

Akhirnya aku punya bukti kalau dulu aku pernah sekolah tinggi sampai
di luar negri.

Rupanya Tuhan sudah cukup mengujiku, dan sepertinya aku mulai
diberikan rewards atas ketabahanku selama ini. Tuhan mulai
memberikan jalan yg terang untuk ku.

Suatu pagi di halaman masjid tampak 2 orang perempuan yg sedang
mengamati bangunan masjid. Satunya seorang bule entah dari negri
mana, sedangkan satunya lagi perempuan lokal.

Kebetulan pak tua sedang di halaman, sehingga mereka menghampirinya,
masjid tsb memang unik, karena merupakan bangunan tua, dengan
arsitektur melayu kuno, sehingga kadang sering dikunjungi orang, dan
biasanya pa tua lah yg menjadi juru bicara, karena memang dia yg
tahu sejarah masjid tsb. Akupun banyak mendapat carita dari pak tua
tetang masjid tsb sehingga aku tahu banyak pula tentang sejarah
masjid tsb.

Aku hanya perhatikan dari jauh, dua orang pengunjung itu ngobrol
dengan pak tua, sampai akhirnya aku lihat si bule agak kebingungan.
Didorong rasa ingin tahu, aku hampiri mereka. Dengan sopan aku
perkenalkan diri, dan menawarkan diri untuk membantu. Ternyata si
bule itu adalah mahasiswi arsitektur dari Australia yg sedang
mealkukan study, sedangkan pendampingnya adalah mahasiswi arsitektur
dari univ. T di kotaku yg bertugas sebagai penterjemah, panggil
saja 'Retno'. Rupanya si mahasiswi lokal tsb kurang lancar bahasa
Inggrisnya sehingga membuat si bule kadang kebingungan mendengar
terjemahan cerita dari pak tua. Dengan sopan pula aku ajukan diri
untuk membantu sibule itu. Dengan bahasa inggrisku yg sangat lancar
aku ceritakan dari awal sampai akhir semua tentang masjid tsb. Aku
ajak pula berkeliling ke tiap sudut masjid. Si bule tambah takjub
ketika aku katakan pernah study di negrinya. Retno terus
memandangiku setengah tidak percaya tentang diriku. Setelah puas
mendapatkan informasi, sebelum pulang Retno berjanji akan menemui ku
kembali segera, ada yg ingin dia tanyakan lebih banyak ttg diriku
katanya. Aku dengan senang hati akan menerima kedatangannya kapan
saja.

Beberapa hari kemudian Retno memang benar2 kembali datang menemuiku,
kali ini dia sama sekali tidak membicarakan perihal arsitektur
masjid. Tapi tentang diriku. Dia amat ingin tahu tentang diriku,
akhirnya aku ceritakan dari awal sampai saat ini perjalanan hidupku
ini. Dia amat bersimpati dan berkeinginan menolong ku. Walau aku
tidak mengaharapkan pertolong orang lain, tapi aku hargai niatnya
membantuku.Dia bilang dengan pendidikan ku dan kemahiranku berbahasa
asing, pasti aku akan dapatkan pekerjaan, apalagi aku sekarang sudah
mempunyai bukti fotocopy ijasah ku. Kira2 seminggu kemudian dia
kembali datang kepadaku, dan menyuruhku membuat surat lamaran,
bahkan dia sendiri yg membawa kertasnya dan amplopnya. Dia katakan
di rektorat univ memerlukan beberapa tenaga honorer. Aku terharu ada
orang lain yg peduli mau membatuku tanpa pamrih, aku ucapkan banyak
terimakasih padanya. Bagiku dia seperti diutus Tuhan untuk
menolongku. Tak lama kemudian aku mendapat kabar gambira, aku
dipanggil menghadap ke rektorat universitasnya untuk test dan
wawancara. Sebelum berangkat aku shalat memohon kapada Allah agar
diberikan kelancaran. Anakku aku titipkan pak tua, yg memang sudah
aku anggap sebagai orang tuaku sendiri.

Alhamdulilah semua test aku lalui dengan lancar, bahkan sewaktu
wawancara bahasa Inggris, justru akulah yg lebih menguasai ketimbang
yg mewawancaraiku. Dia sampai menyerah, dan mengatakan bhs inggrisku
udah perfect melebihi kemampuan dia.

Tak sampai seminggu kemudian, Retno mendatangiku lagi, kali ini dia
tampak gembira sekali, dia katakan dalam beberapa hari aku akan
mendapat surat dari rektorat, yg isinya penerimaan aku sebagai
karyawan. Dia bisa lebih dulu tahu karena ada temannya yg bekerja
disana. Langsung aku menuju masjid dan bersujud sukur lama sekali.
Aku merasa telah lulus segala test yg diujikan Allah tehadapku.
Memang kadangkala aku sering bertanya pada Allah, apakah karena aku
mualaf sehingga Allah kurang percaya dengan keimananku, sehingga
perlu mengujinya dengan ujian yg amat berat.

Walau sebagai karyawan honorer tapi aku sudah bersukur, yg penting
aku sudah memperoleh penghasilan yg layak. Kerjaanku membantu bagian
keuangan di rektorat, memang sesuai dengan ilmuku, tetapi mulai
banyak orang yg tahu kalau aku lulusan dari luar negri. Setiap ada
seminar dan memerlukan makalah dalam bahasa Inggris pasti aku yg
diberikan tugas tambahan untuk menyusunnya. Akupun banyak membantu
menterjemahkan litelatur2 asing untuk dipergunakan para
mahasiswa.Nyaris sejak 3 tahun terakhir, aku tidak pernah membeli
baju baru. Dengan gajiku sekarang aku sudah bisa membeli lagi. Aku
amat sangat senang bukan main, bisa membelikan pakaian yang bagus2
untuk anakku. Bahagia rasanya melihat anakku bisa aku berikan pakain
yg layak. Pakaian sekolahnya yg sudah menguning, sekarang sudah aku
belikan yg baru putih bersih, dan juga sepatu baru. Sepatunya yg
dulu robek, masih aku simpan sebagai kenangan.

Beberapa bulan kemudian aku sudah mampu mengontrak rumah sendiri,
sebelum aku meninggalkan masjid tsb tak lupa aku berpamitan kerumah
pak Imam, aku ucapkan banyak terimakasih atas pertolongannya, beliau
katakan yg menolong bukan dia tetapi Allah SWT yg menolongku. Aku
peluk dia lama sekali, dan aku katakan dahulu aku mengucapkan
sahadat didepan dia, dan aku tak akan pernah mengingkarinya seumur
hidupku, apapun yg terjadi. Sebelum pergi, aku sempat memandangi
kamarku untuk terakhir kali, sempat beberapa menit aku tertegun,
membayangkan, mungkin kelak ruangan ini akan dipakai oleh orang2 yg
senasip seperti aku.....Aku berharap Semoga Allah memberi
kekuatan....

Setelah aku melewati segala cobaan, Tuhan tampaknya terus menerus
memberikan semacam rewards kepadaku, belum genap setahun aku
bekerja, pihak rektorat meberikan kabar, kalau statusku akan di
tingkatkan menjadi karyawan tetap, bahkan beberapa dosen senior
sudah menawariku untuk membantu mengajar. Memang rekan2 kerjaku
mengatakan, kalau karirku bakal amat bagus, karena orang dengan
kemampuan sepertiku amat dibutuhkan. Mereka bilang, kesuksesanku
hanya menunggu waktu saja. Aku hanya bisa mengucap puji syukur
Alhamdulilah. Andai dulu aku sering berdoa dengan linangan air mata
kesedihan, sekarangpun aku masih sering menangis ketika berdoa, tapi
kali ini aku menangis bahagia.

Sampai saat ini aku masih sendirian, aku bertekad membesarkan anaku
sebaik2nya, bagiku aku masih merasa istri dari mas Fariz. Masih
sulit rasanya menggantikan dia dihatiku. Seperti yg aku pernah
katakan, dia bukan hanya suami, tetapi soulmate ku, dan tak
tergantikan. Tetapi entah kalau Allah mempunyai rencana lain untukku.
Tiap memandang anakku, aku seperti melihat mas Fariz. Seperti dia
masih mendampingiku.

Alhamdulilah dengan penghasilanku sekarang ini aku kini bahkan sudah
mampu membeli sepeda motor untuk keperluan transportasiku. Kadang
diakhir pekan aku berboncengan dengan anakku jalan2 rekreasi.
Kadangkala aku sengaja lewat depan rumah orang tuaku, sambil aku
katakan bahwa itulah rumah opa dan oma. Sering anakku bertanya, "Ma
kapan kita pergi main kerumah oma-opa? " Aku tak bisa menjawab,
karena menahan air mata...

Walaupun begitu aku terus berdoa, semoga suatu saat kelak, kedua
orangtuaku dibukakan pintu hatinya, kalaupun tidak mau menerima aku
lagi, mohon terima anakku, cucunya, darah daging mereka sendiri.

Wassalam,

Mawar.

Di ceritakan kembali oleh Retno (2508) Di Kota P

Ku-Ingin Dia menjadi Jasmine dalam KehidupanKu.

Memang sulit untuk mengartikan kehidupan, memang tak mudah untuk mencapai suatu tujuan. Dia, yang dari dulu ku-inginkan, kini telah berubah. Mungkin dulu dia tak seperti yang kuharapkan dan mungkin dia kubenci karena kepribadiannya. Namun kenapa dengan Hati ini, dia telah merubah semua kebencianku menjadi rasa Sayang. Dan Dia lagi, menjadi sosok yang benar-benar aku inginkan. Mungkin aku kasar, mungkin aku salah dan pasti aku Bodoh. Saat pertama ku dapat Hati nya, ku bersyukur dan saat ku tahu Dia akan berubah menjadi lebih baik, aku menangis, bersyukur sujud dan tak terbayangkan kalau Dia akan berubah seperti yang aku harapkan. Aku Rela korbankan semuanya Demi mendapatkan Dia yang berubah. Aku Rela pertaruhkan hidupku agar Dia berubah. Mungkin Jika Dia berubah menjadi lebih baik, menjadi seperti yang aku harapkan, Dia lebih berharga dari Harta termewah di Dunia ini.
Aku tidak butuh Kekayaan Materi, Aku hanya butuh keKayaan Hati. Ku Ingin Dia menjadi Jasmine dalam kehidupanku. Jasmine yang kecil, Putih, Indah dan MeWangi yang membawa KeTenangan dan KeTentraman Hati.

23 Desember 2006 - Jawaban yang Begitu Cepat,diLuar Perkiraan.

Setelah tanggal 22 yang lalu, dengan maksud untuk menyampaikan sesuatu hal yang justru tidak tersampaikan. Kini malah mendapat jawaban dari maksud yang belum tersampaikan itu lebih cepat dari Perkiraan. Wuiiihhh, gila deh, aku dengar percapan Bapakku dan Orang Tua dari Gadisku. Ternyata mereka akhirnya tahu maksud dari kedatangan Orang Tuaku pada 22 Desember 2006 jumat lalu. Dan Jawabannya, mereka setuju dan telah mengatur waktu dimana aku akan mendapatkan Gadisku. Buuusssyet, ini diluar dugaanku loh. Ternyata aku bener-bener dapet lampu ijo, jalur cepat. Tanpa tunggu lama udah dapat jawabannya, weleh-weleh. Sekarang tinggal pusing berpikir untuk menabung untuk menyelesaikan tanggal yang telah ditetapkan. 1.5 tahun lagi Boooookk, weleh-weleh.

22 Desember 2006 - Maksud dan Tujuan yang tak Tersampaikan....

22 Desember 2006. Tanggal dimana aku berani untuk memajukan orang tuaku untuk menanyakan seorang gadis kepada OrangTuanya(Bapaknya). Mungkin orang akan mengira ini adalah melamar, bukan-bukan melamar yang saya maksud, karena ada kepercayaan dari Ortuku antara aku dan Gadisku tidak boleh terjadi lamaran dan Besanan yang ada hanyalah paseduluran. Biasalah orang Jawa tulen, karena ada suatu hal antara aku dan dia, sehingga untuk meminang tidak boleh ada lamaran dan besanan, hingga sampe nikah.
Orang tuaku datang menemui orang tuanya bermaksud untuk menjelaskan antara kami (aku dan gadisku) dan bagaimana nantinya. Uuuhh, pertama memang alot (sulit komunikasi) antara Bapakku dengan Eyang nya (Mbahe Gadisku) soalnya yang ngomong bukan Bapaknya. Biasalah orang tua, sulit dikalahkan kalo omong. Belum kelar maksud dari kedatangan, sudah dapat omongan yang aneh gitu. Padahal maksud dan tujuan belum tersampaikan, huuuuh kesal aku mendengar percakapan alot mereka (Bapakku dan Eyang nya). Yang aneh lagi, keluar kata-kata dari Eyangya, Kalau aku dan gadisku akan segera dinikahkan, Wuuihhh Sumpeh Deh aku langsung kaget, sambil tersedak waktu makan hidangan di meja. Ya istilahnya tuh, aku dapat rambu hijau dari orang tuanya. Tapi maksud kedatangan orang tuaku untuk menjelaskan perihal kepercayaan dan pantangan atas suatu hal dari aku dan gadisku tidak tersampaikan. Gimana mo tersampaikan, baru mo nyinggung masalah itu, langsung diputus ma kata-kata dari Eyangnya. Capek ngomong n aku kesel dengernya. Singkat kata, kami (aku ma Ortu) pulang. Di rumah kami berpikir ulang atas ucapan yang keluar dari Eyangnya. Eh eh, sebelumnya ibu gadisku telepon aku, ternyata siEyang tadi itu tidak mudeng apa yang dibicarakan (maklum udah tua). Terus, hari sabtu nya (23Des06) mo datang kerumahku (ortu maksudku) mereka (Eyang dan Bapak dari Gadisku) akan mengklarifikasi atas apa yang menjadi maksud kami (Aku dan Ortu). Oh iya,,.,., segini aja dulu,.,.,

Bersambung...

Aku GeMbiRa..... (^_^)

Hahaha awal bulan, tanggal 1 Oktober,,.,.,.,., hhahahahaha..
Ini adalah tanggal yang cukup penting buat aku. Setahun yang lalu aku kejatuhan Jasmine pada tanggal ini....Huuuuu Huuuuu....

Seneng banget rasanya aku bisa lewati 1 tahun. Aku berharap ini bukan hanya 1 tahun tapi selaaaamaaanyaaa. Oh iya, awal bulan juga aku baru bisa browsing internet, maklumlah kantor aku agak pelit sih (emang pelit) bisa browsing cuma di awal bulan, padahal yang atur server internetnya aku loh..

Alhamdulillah, Jum'at lalu tanggal 29 September o6 aku mendapat berita gembira dari orang tuaku. Hal yang aku nantikan akhirnya terucap juga walaupun terdengar berat..
Tapi aku bersyukur akhirnya aku mendapat restu dari Ibu untuk memilikinya...Yyeeeee..

Novita Astri Istiqomah, dialah Jasmine-ku... Sekarang aku tinggal berusaha untuk memilikinya dengan sepenuhnya dan seutuhnya... Teman-teman Do'akan aku ya agar niat baikku dengannya dapat terwujud tanpa hambatan lagi...

Ya Allah ringankan Cobaanku dan Lancarkanlah Rizkiku...Amien

Cara Menyucikan Hati

Hati itu bagaikan kaca mata. Kalau kita menggunakan kaca mata yang bening,
apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya, yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan kaca mata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.


Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari performa batiniah atau hatinya.
ِانَّ اللهَ لاَيَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (اخرجه مسلم)
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim).

Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya.
Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt. memaafkannya.


Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya.
Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat lain,
عَنْ عَلِيِّى بْنِ أَبِى طَالِبٍ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنَ الْقُلُوْبِ قَلَّبَ إِلاَّ وَلَهُ سَحَابَةٌ كَسَحَابَةِ الْقَمَرِ، بَيْنَمَا الْقَمَرُ مضئى إِذْ عَلَتْهُ سَحَابَةٌ فَأَظْلَمَ، إِذْ تَجَلَّتْ عَنْهُ فَأَضَاءَ (البخارى ومسلم)
“Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu sesungguhnya bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan kemaksitan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?
1. Introspeksi diri
Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.
يـَاأَيُّـهَـا الَّذِيْـنَ ءَامَـنُـوْا اتَّـقُـوْا اللهَ وَلْتَـنْـظُـرْ نَـفْـسٌ مَّاقَـدَّمَتْ لِغَـدٍ وَاتَّــقُـوْا اللهَ. إِنَّ اللهَ خَـبِـيْرٌ بِـمَا تَـعْـمَلُـوْنَ {الحشر 18:59}
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)

2. Perbaikan Diri
Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.
يَـآأَيُّـهَـا الَّذِيْـنَ ءَامَـنُـوْا تُـوْبُـوْا إِلَى اللهِ تَـوْبَـةً نَّـصُـوْحًـا عَسَى رَبُّـكُمْ أَنْ يُّـكَـفِّـرْ عَـنْـكُمْ سَـيِّـئَـاتِـكُـمْ وَيُـدْخِـلَـكُمْ جَـنّـتٍ تَـجْـرِى مِنْ تَـحْـتِهَـا اْلأَنْـهَارِ ....{التحريم 8:66}
"Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)

3. Tadabbur Al Qur’an
Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Qur’an.
أَفَلاَ يَـتَـدَبَّـرُْنَ الْـقُـْرآنَ اَمْ عَلَى قُلـُوبٍ أَقْـفَـالُهَـا {محمد 24:47}
“Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24)

4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh
Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah saw bersabda,
… اِعْـمَــلُوْا عَلَى مَاتُــطِـْيقُـوْنَ فَإِنَّ اللهَ لاَيـَـمَلُّ حَتَّى تَـمَـلَّ وَاَنَّ اَحَـبَّ اْلاَعْـمَـالِ اِلىَ اللهِ اَدْوَمُـهَا وَاِنْ قَـلَّ {رواه البخارى}
"…Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit." (H.R. Bukhari)

5. Mengisi Waktu dengan Zikir
Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama, zikir Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah swt. dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amali.
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اذْكُرُوْا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا .وَسَبِّحُوْاهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً {الاحزاب 33: 41-42}
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S.Al-Ahzab 33 : 41-42)
فَاذْكُرُوْنِى أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْالِى وَلاَتَكْفُرُوْنَ {البقرة 152:2}
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah 2 :152)

6. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh
Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Kerena itu, Allah swt.. mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَوَاةِ وَالْعَشِيِّى يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ. وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا {الكهف 18 : 28}
“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim
Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah saw. bersabda,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلاُ شَكَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ لَهُ: إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِيْنَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيْمِ (رواه احمد)
“Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw. menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (H.R. Ahmad).

8. Mengingat Mati
Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.
عَنْ اَنَسٍ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا، فَإِنَّهَا تَرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ اْلأخِرَةَ (رواه الحاكم)
“Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (H.R.Hakim)

9. Menghadiri Majelis Ilmu
Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah swt. akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas.
لاَيَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ اِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةِ وَغَشِيَتْهُمً الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ {رواه مسلم }
“Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (H.R. Muslim)

10. Berdo’a kepada Allah swt.

Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu). Perhatikan riwayat berikut,.
عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ : قُلْتُ لأُمِّ سَلَمَةَ، يَاأُمَّ الْمُؤْمِنيْنَ مَاكَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ، مَاأَكْثَرُ دُعَائِكَ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ؟ قَالَ: يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ. فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ (اخرجه احمد)

“Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” ” Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadits ini hasan)


Selain do’a di atas, Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa ketika menginap di rumah Rasulullah saw., ia pernah mendengar beliau mengucapkan do’a berikut,
اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُوْرًا وَفِى لِسَانِى نُوْرًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُوْرَا وَاجْعَلْ فِى بَصَرِى نُوْرًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِى نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِى نُوْرًا اَللّهُمَّ أَعْطِنِى نُوْرًا (رواه مسلم)
“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (H.R.Muslim)


Kesimpulannya, hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita busuk, seluruh amaliah pun busuk. Ada sepuluh cara agar kita memiliki hati yang suci, yaitu; Introspeksi diri, perbaikan diri, tadabbur Qur’an, menjaga kelangsungan amal saleh, mengisi waktu dengan zikir, bergaul dengan orang-orang saleh, berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim, mengingat mati, menghadiri majelis ta’lim, dan berdo’a kepada Allah swt. Mudah-mudahan Allah swt. selalu memberi kepada kita hati yang bening. Amiin . Wallahu A’lam

Power of Love......

Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.


Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog sampai filosop membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis ataupun sosiologis.
Filosop sekaliber Plato bahkan pernah mengatakan “Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita”. Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.
Peranan cinta dalam kehidupan tidak diragukan lagi pentingnya. Cinta diyakini sebagai dasar dari perdamaian, keharmonisan, ketentraman, kebahagiaan bahkan kebangkitan peradaban. Namun apa sesungguhnya cinta itu ?
Diakui, problem yang dihadapi saat membicarakan cinta biasanya adalah persoalan definisi. Belum pernah ditemui suatu rumusan tentang cinta yang singkat, padat dan mewakili pemahaman akan hakikat cinta secara tepat.


Jalauddin Rumi pernah mengatakan bahwa cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamannya.
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur …
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan,
buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka !
Cukuplah ! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu ?
Cinta memiliki banyak penyataan melampaui pembicaraan. . .


Oleh sebab itu, disini kita tidak akan mendefinisikan cinta karena khawatir mereduksi kedalamannya. Biarlah cinta berbicara dalam perbuatan kita. Disini, kita akan mencoba mencermati unsur-unsur yang selalu ada dalam cinta.


Erich fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu :

1. Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah Swt., maka kita akan memperhatikan apa saja yang Allah ridhai dan yang dimurkai-Nya.
2. Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab akan kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.
3. Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
4. Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.

Kalau empat unsur ini ada dalam kehidupan kita, Insya Allah hidup ini akan bermakna. Apapun yang kita lakukan, kalau berbasiskan cinta pasti akan terasa ringan. Karena itu nabi Saw pernah bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang kalau dia belum mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sensiri”. “ Cintai oleh mu mahluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu”. (HR. Muslim)
Supremasi kebahagiaan tertinggi, kalau kita mampu mencintai orang lain dengan tulus tanpa pamrih, mencintai diri sendiri secara proporsional, mencintai Allah Swt dengan penuh loyalitas dan selalu merasa dincintai-Nya. Inginkah hidup kita bermakna ? Let Love be Your Energy ! Selamat bercinta !

Kewajiban Istri kepada Suami

Ustadz, pada MaPI edisi 04 April 2001 ada pertanyaan tentang kewajiban suami kepada istri. Nah, saya ingin menanyakan sebaliknya, apa kewajiban isrri kepada suami. Mohon penjelasan.

chuprex@walla.com


Jawab : Apabila kita ingin membangun rumah tangga yang penuh mawaddah dan rahmah alias penuh ketentraman dan kedamaian, maka suami dan istri harus pandai melaksanakan kewajibannya masing-masing, jangan hanya pintar menuntut hak sementara kewajiban diabaikan. Pada MaPI edisi 04 April 2001 sudah dibahas kewajiban suami terhadap isrri. Sekarang, apa kewajiban isrri kepada suami?

Kewajibannya adalah:


1. Menjaga amanah

Amanah yang ada di tangan istri berupa harta, anak, dan kehormatan. Isrri wajib mengatur harta yang diterima dari suaminya agar bisa digunakan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan keluarga. Sikap boros merupakan cerminan dari isrri yang tidak bisa menjaga amanah (harta suami).

Istri wajib mencurahkan tenaga, pikiran, dan perasaan dalam mendidik anak agar menjadi shaleh, karena dia merupakan amanah Allah. Istri yang kurang memperhatikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya merupakan gambaran istri yang tidak mampu menjaga amanah (anak).

2. Istri wajib menjaga kehormatan dirinya, ia tidak dibenarkan menjalin “keakraban” dengan lelaki lain.


“...sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri di balik suaminya (saat suami tidak ada) oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. (Q.S. An-Nisa : 34)

Ayat ini menegaskan bahwa istri yang shaleh itu taat kepada perintah-perintah Allah dan menjaga amanah suaminya berupa anak, harta, dan kehormatan.

3. Menjaga penampilan agar tetap menarik

Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik isrri ialah bila engkau pandang menyenangkan, bila engkau perintah ia taat kepadamu, dan bila engkau tidak ada di sisinya, ia bisa menjaga kehormatan dan harta.”

4. Mensyukuri segala sesuatu yang diberikan suami

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagai manusia, dalam diri suami tentu terdapat kekurangan dan kelebihan. Istri wajib menghargai kelebihan suami dan menerima segala kekurangannya. Oleh sebab itu, kalau suatu saat suami melakukan kekeliruan atau kealfaan, istri tidak boleh melupakan segala kebaikan suami.

Nabi saw. menyebutkan dalam hadits riwayat Bukhari, bahwa di akhirat banyak wanita yang masuk neraka karena suka melupakan kebaikan suami pada saat suami melakukan kekeliruan, seolah-olah suami belum pernah berbuat kebaikan sedikit pun. Silakan perhatikan keterangan berikut.

“Neraka pernah diperlihatkan kepadaku, ternyata kebanyakan penghuninya adalah kaum perempuan, yaitu mereka yang tidak tahu berterima kasih kepada suami. Andaikata engkau (suami) berbuat baik kepada seseorang di antara mereka setahun, kemudian ia melihat sedikit cela padamu, maka ia akan mengatakan: Saya tak pernah melihat sedikit pun kebaikan darimu.” (H.R. Bukhari).


Bertolak dari keterangan-keterangan di atas, bisa kita simpulkan bahwa pertama, istri wajib mentaati segala perintah suami selama perintahnya benar. Kedua, isrri wajib memelihara amanat suami berupa harta, anak, dan kehormatan. Ketiga, Istri sebaiknya tetap menjaga penampilan agar enak dilihat suami. Keempat, istri wajib mensyukuri segala kebaikan suami. Wallahu A’lam.

Cewek Jaman Sekarang Bilang Tentang Cowok...

cewek bilang tentang cowo

Kalo cowok ganteng pendiam
cewek-cewek bilang: woow, cool banget...
kalo cowok jelek pendiam
cewek-cewek bilang: ih kuper...

kalo cowok ganteng jomblo
cewek-cewek bilang: pasti dia perfeksionis
kalo cowok jelek jomblo
cewek-cewek bilang: sudah jelas...kagak laku...

kalo cowok ganteng berbuat jahat
cewek-cewek bilang: nobody's perfect
kalo cowok jelek berbuat jahat
cewek-cewek bilang: pantes...tampangnya kriminal

kalo cowok ganteng nolongin cewe yang diganggu preman
cewek-cewek bilang: wuih jantan...kayak di filem-filem
kalo cowok jelek nolongin cewe yang diganggu preman
cewek-cewek bilang: pasti premannya temennya dia...

kalo cowok ganteng dapet cewek cantik
cewek-cewek bilang: klop...serasi banget...
kalo cowok jelek dapet cewek cantik
cewek-cewek bilang: pasti main dukun...

kalo cowok ganteng diputusin cewek
cewek-cewek bilang: jangan sedih, khan masih ada aku...
kalo cowok jelek diputusin cewek
cewek-cewek bilang:...(terdiam, tapi telunjuknya meliuk-liuk dari atas ke bawah, kasian deh loe )...

kalo cowok ganteng penyayang binatang
cewek-cewek bilang: perasaannya halus...penuh cinta kasih
kalo cowok jelek penyayang binatang
cewek-cewek bilang: sesama keluarga emang harus menyayangi...

kalo cowok ganteng bawa BMW
cewek-cewek bilang: matching...keren luar dalem
kalo cowok jelek bawa BMW
cewek-cewek bilang: mas majikannya mana?...

kalo cowok ganteng males difoto
cewek-cewek bilang: pasti takut fotonya kesebar-sebar
kalo cowok jelek males difoto
cewek-cewek bilang: nggak tega ngeliat hasil cetakannya ya?...

kalo cowok ganteng naek motor gede
cewek-cewek bilang: wah kayak lorenzo lamas...bikin lemas...
kalo cowok jelek naek motor gede
cewek-cewek bilang: awas!! mandragade lewat...

kalo cowok ganteng nuangin air ke gelas cewek
cewek-cewek bilang: ini baru cowok gentlemen
kalo cowok jelek nuangin air ke gelas cewek
cewek-cewek bilang: naluri pembantu, emang gitu...

kalo cowok ganteng bersedih hati
cewek-cewek bilang: let me be your shoulder to cry on
kalo cowok jelek bersedih hati
cewek-cewek bilang: cengeng amat!!...laki-laki bukan sih?

Kalo cowok ganteng baca postingan ini
langsung ngaca sambil senyum-senyum kecil, lalu
berkata "life is beautifull"

kalo cowok jelek baca e-mail ini,
Frustasi, ngambil tali jemuran, trus triak
sekeras-kerasnya
"HIDUP INI KEJAAAAMMM....!!!"

Tanya Jawab dengan Ustadz Aam: Nikah

Tanya Jawab dengan Ustadz Aam: Nikah Saat Kuliah

Ustadz, ada sejumlah kawan saya di kampus yang menikah lebih dini (nikah saat kuliah) dengan alasan untuk menghindarkan diri dari dosa. Bagaimana tanggapan ustadz terhadap persoalan ini?

Viany

Jawab : Pernikahan merupakan institusi agung untuk mengikat dua insan lawan jenis dalam satu ikatan keluarga. Al Qur’an mengistilahkan ikatan pernikahan dengan mistaqan ghalizhan, artinya perjanjian kokoh/agung yang diikat dengan sumpah.

Al Qur’an menggunakan istilah mitsaqan ghalizhan minimal dalam tiga konteks. Pertama, konteks ikatan pernikahan seperti disebutkan dalam Q.S. An-Nisa 4:21. Kedua, konteks perjanjian Allah swt. dengan Bani Israil (Q.S. An-Nisa 4:154). Ketiga, konteks perjanjian Allah swt. dengan para Nabi-Nya bahwa mereka akan menyampaikan ajaran agama kepada umatnya masing-masing (Q.S. Al Ahzab 33:7).

Menganalisis konteks mistaqan ghalizhan yang digunakan Al Qur’an, bisa ditarik benang merah bahwa ikatan pernikahan itu nilai keagungannya sekaliber perjanjian antara Allah swt dengan Bani Israil dan selevel dengan perjanjian antara Allah swt. dengan para Nabi-Nya.

Jadi, cukup logis kalau pernikahan itu dinilai bukan sekedar tali pengikat untuk menyalurkan kebutuhan biologis (ticket hubungan sexual yang sah), tetapi juga harus menjadi media aktualisasi ketaqwaan. Karena itu, untuk memasuki jenjang pernikahan dibutuhkan persiapan-persiapan yang matang; kematangan fisik, psikis, maupun spritual.

Persipan matang itu diperlukan karena begitu terjadi ikatan pernikahan, maka akan lahir hak dan kewajiban suami-isrri. Hak dan kewajiban ini orientasi dominannya tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan biologis, tapi justru yang paling dominan adalah orientasi pada aktualisasi ketakwaan.

Akhir-akhir ini mengemuka fenomena mahasiswa yang menjalankan pernikahan lebih dini dengan niat untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa. Ccara ini diyakini sebagai jalan keluar terbaik untuk menghindarkan diri dari gaya hidup sex bebas (free sex).

Sesungguhnya, bila ditinjau dari segi niat (menjauhi zina), hal itu sudah sesuai dengan ajaran Islam, sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan yang keji …” (Q.S. Al-Isra 17:32). Masalahnya, apakah pernikahan yang begitu agung cukup hanya berbekal niat menjauhi zina? Kalau demikian, kedudukan institusi nikah menjadi sangat sempit; sekedar ticket hubungan sexual!

Fakta empirik menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa secara material masih mempunyai ketergantungan yang kuat pada orang tuanya. Jadi cukup logis kalau ada hipotesis yang menyatakan bahwa memasuki jenjang pernikahan semasa kuliah hanya akan menambah beban orang tua, juga hak dan kewajiban suami-isrri yang merupakan konsekuensi logis dari akad nikah tidak akan terlaksana secara sempurna.

Saat dikedepankan, hipotesis ini sering dibantah dengan pernyataan bahwa yang memberi dan mengatur rizki itu Allah swt., bukan manusia, kalau kita menikah dengan niat karena Allah pasti Allah akan memberikan rizki-Nya! Seraya mengutip ayat yang berbunyi, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu … Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas pemberiannya dan Maha Mengetahui.” (Q.S. An-Nuur 24:32)

Keyakinan bahwa Allah sebagai pengatur dan pemberi rizki memang benar, bahkan ada ayat yang lebih tegas lagi, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya…” (Q.S. Huud 11:6). Masalahnya, apakah rizki itu akan datang begitu saja tanpa usaha? Bukankah seekor semut pun saat akan mengisi perutnya harus berusaha keluar dari sarangnya?

Jadi, firman Allah dalam Q.S. An-Nuur 24:32 harus difahami secara holistik, tidak parsial dan sporadis. Ayat ini jangan dijadikan landasan untuk berbuat nekad, tapi justru harus disikapi dengan penuh perhitungan, artinya kalau secara material belum mampu, jangan dipaksakan hanya dengan berbekal keyakinan bahwa Allah swt. pemberi rizki.

Bersikap realistislah, kalau memang kita masih punya ketergantungan material kepada orang tua yang cukup kuat, alangkah bijaksana kalau pernikahan itu ditangguhkan dulu dengan tetap menjaga kesucian diri (menghindari dosa). Hal ini bisa dibaca pada ayat berikutnya “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian dirinya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. (Q.S. Annur 24:34)

Dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah saw. pernah menasihati orang-orang yang belum menikah. Sabdanya, “Wahai pemuda! Siapa di antara kamu yang sudah mencapai ba’ah (mampu menikah), maka menikahlah karena itu akan lebih menjaga mata dan kehormatanmu. Dan siapa yang belum mampu, maka shaumlah karena shaum merupakan benteng (dari perbuatan zina).”

Hadits ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah saw. menyarankan kepada orang yang sudah mampu agar segera menikah, sementara kepada yang belum mampu Rasul memberi jalan keluar untuk menangguhkan pernikahan yaitu dengan melaksanakan Shaum, karena shhaum merupakan benteng. Ungkapan ini merupakan isyarat bahwa kita diperbolehkan menangguhkan pernikahan untuk lebih mematangkan persiapan.

Oleh karena itu, para ahli fiqih mendudukkan hukum pernikahan pada empat hukum,

Wajib menikah bagi orang yang sudah punya calon isrri atau suami dan mampu secara fisik, psikis, dan material, serta memiliki dorongan seksual yang tinggi sehingga dikhawatirkan kalau pernikahan itu ditangguhkan akan menjerumuskannya pada zina.
Sunnah (thatawwu’) menikah bagi orang yang sudah punya calon isrri atau suami dan sudah mampu secara fisik, psikis, dan material, namun masih bisa menahan diri dari perbuatan zina.
Makruh (tidak dianjurkan) menikah bagi orang yang sudah punya calon isrri atau suami, namun belum mampu secara fisik, psikis, atau material. Karenanya, harus dicari jalan keluar untuk menghindarkan diri dari zina, misalnya dengan shaum dan lebih meningkatkan taqarrub diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah lainnya.
Haram menikah bagi mereka yang seandainya menikah akan merugikan pasangannya serta tidak menjadi kemashlahatan (kebaikan).
Kedudukan hukum yang beragam ini mengisyaratkan bahwa hukum pernikahan itu sangat kondisional. Oleh karena itu, sebelum memasuki pernikahan, kita harus mempertimbangkan kondisi yang akan dihadapi alias berpikir secara matang, jangan menyederhanakan masalah.

Kalau kita masih berstatus mahasiswa, untuk kehidupan keseharian masih mengandalkan wesel dari orang tua sebesar Rp. 150.000 per bulan, kuliah baru semester empat, IPK di bawah 2,5, dst. Maka alangkah bijaksana kalau menangguhkan dulu pernikahan sambil mendewasakan diri, dan carilah jalan keluar yang positif. Belajar yang sungguh-sungguh agar cepat selesai kuliah, cepat bekerja, cepat dewasa, dan bisa mandiri (dalam terminolgi hadits disebut al-ba’ah).

Dengan cara seperti ini, Insya Allah bahtera rumah tangga bisa dijalani dengan persiapan yang matang. Suatu aksioma menyatakan, sesuatu yang dihadapi dengan persiapan matang hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan tanpa persiapan.

Wallahu A’lam Bishawab

Sumber: http://www.percikan-iman.com/modules.php?name=Datanya&op=detail_atanya&id=84